Tautan-tautan Akses

Yayasan 'Kesatuan Bangsa' Tolak Permintaan Turki Tutup Sekolah

  • Munarsih Sahana

Sekolah Kesatuan Bangsa di Yogyakarta menolak permintaan pemerintah Turki agar menutup sekolah karena disinyalir terkait dengan tokoh Fethulah Gulen yang gagal melakukan kudeta beberapa waktu lalu (VOA/Munarsih).

Sekolah Kesatuan Bangsa di Yogyakarta menolak permintaan pemerintah Turki agar menutup sekolah karena disinyalir terkait dengan tokoh Fethulah Gulen yang gagal melakukan kudeta beberapa waktu lalu (VOA/Munarsih).

Sekolah Kesatuan Bangsa di Yogyakarta hari Selasa (2/8) menolak permintaan pemerintah Turki untuk menutup sembilan sekolah swasta yang dituduh terkait dengan Fethulah Gulen, tokoh yang dituduh berada di balik kudeta yang gagal.

Menanggapi permintaan pemerintah Turki agar Indonesia menutup sembilan sekolah swasta yang disinyalir telah dibiayai oleh yayasan di bawah Fethulah Gulen, pengelola sekolah Kesatuan Bangsa di Yogyakarta hari Selasa (2/8) menyatakan penolakannya.

Pemerintah Turki sebelumnya mengatakan ada sembilan lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai kota di Indonesia yang terkait dengan Organisasi Teroris Fethullah (FETO). FETO adalah pemerintah Turki untuk para pengikut ulama Fethullah Gulen yang gagal melakukan kudeta beberapa waktu lalu.

Melalui siaran pers yang dirilis di lelaman Kedutaan Besar Turki untuk Indonesia pada 28 Juli lalu, ada sembilan sekolah – termasuk Sekolah Kesatuan Bangsa di Yogyakarta – yang dinyatakan harus ditutup.

Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School Yogyakarta Ahmad Nurani mengatakan pemerintah Indonesia telah menegaskan tidak akan menutup ke-sembilan sekolah itu. Sekolah Kesatuan Bangsa juga tidak memiliki dasar hukum untuk menutup sekolah.

“Kita menolak karena memang kita adalah sekolah Indonesia, bernaung dibawah yayasan Indonesia dan tunduk kepada peraturan Indonesia dan kurikulum juga Indonesia. Secara kelembagaan kita sudah tidak ada kerjasama dengan Turki. Jadi bagian mana yang melanggar secara legal formal. Pelajaran Sains pengantarnya memang Bahasa Inggris, kita memang acuan kurikulum nasional tapi kita perkaya dengan muatan internasional,” ujar Ahmad Nurani.

Ahmad Nurani menambahkan selama ini sekolah tidak pernah mengajarkan kekerasan, tentang politik Turki atau tentang tokoh ulama Fethulah Gulen. Di sekolah, menurut Ahmad Nurani, disediakan buku-buku tentang tokoh nasional Indonesia maupun internasional termasuk dari Turki.

Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta Ahmad Nurani (tengah berbaju putih) menjelaskan tentang penolakan terhadap permintaan pemerintah Turki didampingi anggota Yayasan dan orangtua murid. (VOA/Munarsih).

Kepala Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta Ahmad Nurani (tengah berbaju putih) menjelaskan tentang penolakan terhadap permintaan pemerintah Turki didampingi anggota Yayasan dan orangtua murid. (VOA/Munarsih).

Ia menambahkan, “Mungkin ada beberapa siswa kecenderungannya lebih ke Islam, tetapi semuanya dalam koridor mengkaji. Peran guru disini mendampingi anak-anak SMP dan SMA yang masih labil pikirannya. Khusus untuk buku tentang Fethulah Golen yang saya tahu dari segi bahasa itu susah dicerna untuk anak-anak usia SMA sekalipun”.

Gatot Nugroho, anggota Yayasan Pendidikan Kesatuan Bangsa Mandiri yang menaungi Sekolah Kesatuan Bangsa menjelaskan, pada pendirian sekolah 5 tahun lalu, yayasan bekerjasama dengan Yayasan Pasiad, LSM dari Turki yang secara resmi kerjasama dengan pemerintah Indonesia.

Namun, dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 31 tahun 2014 tentang kerjasama penyelenggaraan pendidikan negara asing dan Indonesia, kerjasama kelembagaan itu diakhiri sehingga sekarang sudah tidak ada lagi kerjasama antara yayasan kedua Negara. Dikatakan, saat ini terdapat 2 orang guru dari Turki dan 1 guru dari Amerika Serikat yang direkrut sesuai peraturan yang berlaku.

“Ada 2 guru Turki dan itu sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku di Indonesia; ketenaga-kerjaan, hubungan luar negeri dan lain-lain itu tidak ada persoalan. Selama tidak ada persoalan ya kita belum akan bersikap apa-apa,” papar Gatot.


Dalam kesempatan terpisah para orangtua murid menolak tuduhan pihak pemerintah Turki bahwa sekolah swasta tersebut telah mengajarkan kekerasan dan terorisme. Nurul Nur Hidayat; ayah dari siswa Ardia Kansha Daniswara kelas 9, Ny. Emy Rohayati; ibu Muhammad Fauzan Hamid kelas 10, dan Suputa; ayah Calyptra Ramadhan kelas 10 menyatakan anak-anak mereka justru belajar tentang toleransi, disiplin dan cinta tanah air.

"Anak-anak dididik untuk toleran terhadap sesama rekan, suku, agama maupun golongan dan tidak memandang materi, kaya-miskin, disini mereka tolerannya luar biasa,” tutur Nurul.

“Disini benar-benar mendidik anak kami menjadi pribadi yang mandiri, sopan, dan bisa bergaul dengan semua kalangan karena disini anak-anaknya kan berasal dari berbagai daerah (di Indonesia) dan beda agama, anak saya bisa toleransi dengan agama dan suku manapun,” tambah Emy.

“Siswa-siswa dari sekolah ini benar-benar menjadi berakhlak mulia, menjadi anak-anak yang cerdas, mempunyai budi pekerti yang baik dan santun dan nasionalisme-nya terhadap negara itu tinggi,” kata Suputa.

Sejumlah lulusan yang kini melanjutkan studi di perguruan tinggi dan menjadi pembina asrama di sekolah itu juga menyampaikan kesaksian tentang sekolah Kesatuan Bangsa. [ms/em]

XS
SM
MD
LG