Tautan-tautan Akses

Kenaikan Harga Pangan dan Minyak Dorong Pertambahan Angka Kemiskinan di Asia

  • Ron Corben
  • Wita Sholhead

Kekisruhan di Timur Tengah yang mengakibatkan arus keluar besar-besaran pekerja migran dari wilayah tersebut mendorong pertambahan angka kemiskinan, karena turunnya pengiriman uang ke negara asal pekerja migran.

Kekisruhan di Timur Tengah yang mengakibatkan arus keluar besar-besaran pekerja migran dari wilayah tersebut mendorong pertambahan angka kemiskinan, karena turunnya pengiriman uang ke negara asal pekerja migran.

Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ECOSOC) memperingatkan bahwa kenaikan harga mendorong lebih banyak orang di Asia ke jurang kemiskinan.

Noeleen Heyzer, Ketua Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ECOSOC), memperingatkan meningkatnya inflasi di seluruh Asia mengakibatkan lebih dari 40 juta orang jatuh miskin tahun ini di sana.

Di seluruh Asia dan Pasifik, lebih dari 600 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan, kurang dari 1,25 dolar sehari.

Kenaikan harga pangan dan minyak, serta “kejutan-kejutan eksternal,” menurut Heyzer, seperti arus keluar modal investasi akibat ketidakpastian di Timur Tengah merusak kepercayaan ekonomi di Asia Pasifik.

Heyzer mengatakan, “Pemulihan ekonomi masih lemah dan tidak merata. Apa yang perlu dilakukan adalah memastikan pengembangan strategi mengenai bagaimana mendorong pemulihan ekonomi berkelanjutan dan memastikan pemulihan itu mencakup semua kelompok masyarakat.”

Peringatan Heyzer itu disampaikan setelah adanya laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Bank Dunia mengenai kenaikan harga pangan global, karena cadangan biji-bijian global menurun pesat tahun ini. Ia mengatakan kawasan ini perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak kondisi ekonomi baru ini.

Ia menjelaskan, “Kejutan-kejutan eksternal diakibatkan oleh kenaikan harga pangan dan minyak, serta isu keuangan. Bahkan jika kita lihat pada apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, akibat pemberontakan itu banyak pekerja migran dikirim pulang ke negaranya. Karena kebanyakan dari mereka kehilangan pekerjaan, keluarga mereka yang tergantung pada kiriman uang didorong masuk dalam kemiskinan.”

Kantor Migrasi Internasional (IOM) mengatakan, sejak tanggal 20 Februari lebih dari 210.000 migran mengungsi dari Libya, kebanyakan dari mereka berasal dari Bangladesh.

Heyzer mengatakan, bersama inflasi, muncul masalah aset gelembung modal karena uang keluar dari Timur Tengah. Di negara-negara seperti Tiongkok dan Thailand, pemerintah berupaya mengekang pemberian pinjaman dan menaikkan tingkat suku bunga untuk meredam inflasi harga di sektor-sektor seperti pasar properti.

Ia mengatakan pemerintah perlu memastikan pemulihan ekonomi seluas mungkin. Ia menghimbau negara-negara agar menyesuaikan kembali strategi pembangunan dengan proyek-proyek yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan.

Heyzer mengatakan pemerintah perlu memberikan perhatian lebih besar kepada kelompok-kelompok berpendapatan rendah dan mengarahkan investasi dalam proyek-proyek pembangunan sosial, seperti sektor kesehatan.

XS
SM
MD
LG