Tautan-tautan Akses

Kemenko Maritim Dorong Pariwisata Bersih untuk Tarik Minat Turis Asing

  • Petrus Riski

Menko Maritim Luhut Binsar pandjaitan (tengah) diapit Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Sekdaprov Jawa Timur Ashmad Sukardi, menyampaikan paparan mengenai gerakan budaya bersih dan senyum di Balikota Surabaya, Selasa 6 Desember 2016 (Foto:VOA/Petrus).

Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman mencanangkan gerakan budaya bersih dan senyum, yang ditujukan untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata di Indonesia.

Persoalan kebersihan menjadi penekanan pemerintah pusat untuk mewujudkan kawasan strategis pariwisata di Indonesia dalam rangka menggaet turis asing masuk ke tanah air.

Kota Surabaya dijadikan percontohan dalam pengelolaan sampah, karena termasuk 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan kawasan strategis pariwisata.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, pengembangan dunia pariwisata di Indonesia harus memperhatikan faktor kebersihan. Kebersihan, menurutnya,adalah syarat mutlak menarik wisatawan luar negeri. Kondisi daerah wisata yang kotor tidak hanya membuat wisatawan enggan berkunjung tapi juga menurunkan kesehatan masyarakat setempat.

“Kalau bersih kan untuk pariwisata baik, untuk kesehatan baik. Hasil penelitian menunjukkan ternyata sampah laut dimakan ikan. Itu berbahaya buat manusia. Itu hasil penelitian mengenai sampah. Jadi kita harus perbaiki itu sekarang. Kalu tidak, anak cucu kita bisa terkontaminasi karena makan ikan ikan yang telah tercemar sampah plastik,” kata Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, selain menuntut keseriusan pemerintah, penanganan masalah sampah perlu melibatkan semua elemen masyarakat.

“Misalkan kebakaran, itu belum tentu tiap hari. Tapi kalau sampah itu tiap menit bahkan tiap detik, nah itu memang harus membutuhkan control yang kuat, kemudian harus disiplin juga, kemudian harus mengajarkan. Orang-orang kadang tidak telaten, maunya jalan pintas. Coba bayangkan kalau semua dikerjakan pemerintah, berapa uang harus keluar, berapa uang yang harus kita keluarkan dari pemerintah, tapi kalau di Surabaya itu masyarakatnya ikut bergerak, maka beban pemerintah itu akan turun,” kata Tri Rismaharini.

Sampai saat ini Kota Surabaya telah mengembangkan metode gasifikasi untuk mengatasi masalah sampah dan memproduksi listrik. Langkah ini menjadi salah satu upaya mengurangi volume sampah, yang dikirim ke tempat pembuangan akhir sampah Benowo. Risma menargetkan, metoda ini bisa memproduksi listrik hingga 10 megawatt.

“Saya berharap untuk yang 9 megawatt ini investornya sudah siap memajukan usaha. Rencananya kan tahun2019 selesai konstruksi, tapi dia siap majukan untuk 2018. Jadi pada 2018, Insya Allah kita sudah punya 10 megawatt,” imbuhnya.

Selain mengatasi persoalan sampah di darat, Risma juga menyoroti pentingnya penanganan sampah di di perairan atau pantai. Dalam waktu dekat, Risma akan memasang semacam jaring untuk memerangkap sampah yang datang dari laut, agar tidak mencemari perairan dan meracuni ikan-ikan yang ditangkap nelayan.

“Dulu itu kita pernah memberi tong sampah ke kapal-kapal yang menyebrang antar pulau itu, Kita berikan itu agar mereka tidak membuang sampah ke laut, Makanya saya mau pasang jaringyang agak menjorok ke laut. Jaring itu akan menahan sampah dari luar Surabaya,” lanjut Risma.

Luhut menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 20 juta pada 2019 sehingga menjadikannya sumber pemasukan terbesar kedua selain pajak.

“Kita berharap nanti tahun 2019 jumlah turis ke Indonesia itu kira-kira akan mencapai 20 juta, dan itu menjadi penerimaan terbesar kita, yakni sekitar 20 milyar dolar,” kata Luhut Binsar Pandjaitan. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG