Tautan-tautan Akses

Kemenkes: Tes Menyeluruh untuk Zika Terlalu Mahal


Seorang petugas melakukan penyemprotan pestisida di lokasi ditemukannya kasus virus Zika di Singapura (1/9). (AP/Wong Maye-E)

Seorang petugas melakukan penyemprotan pestisida di lokasi ditemukannya kasus virus Zika di Singapura (1/9). (AP/Wong Maye-E)

Para ahli di kawasan ini mengatakan laporan penyebaran Zika di seluruh Asia Tenggara kemungkinan akan lebih rendah karena otoritas-otoritas kesehatan gagal melakukan penyaringan yang layak.

Indonesia tidak mampu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kemungkinan wabah Zika, menurut seorang pejabat Kementerian Kesehatan, karena negara ini harus fokus melawan dengue, virus yang berpotensi fatal dan juga dibawa oleh nyamuk.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara-negara Asia dengan kemungkinan transmisi endemik, atau bukti dari, adanya infeksi Zika setempat. Namun pihak berwenang belum melaporkan adanya infeksi baru-baru ini.

Baik dengue maupun Zika disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang umum ada di seluruh Asia Tenggara. Pemerintah Singapura dalam seminggu terakhir mengatakan telah mendeteksi lebih dari 240 kasus Zika, sementara Malaysia melaporkan infeksi transmisi lokal pertamanya Sabtu.

Filipina mengukuhkan hari Senin (5/9) kasus Zika pertamanya tahun ini dan mengatakan "kemungkinan besar" telah disebarkan secara lokal.

"Saat ini kita tidak dapat keluar dan menguji setiap orang atau setiap kasus yang diduga Zika karena biayanya terlalu tinggi," ujar Muhamad Subuh, direktur jenderal pencegahan dan penularan penyakit pada Kementerian Kesehatan, kepada Reuters.

"Ada prioritas-prioritas lain seperti demam dengue, yang lebih menyebar dan lebih berbahaya, dan kami harus mengalokasikan sumber-sumber daya kami secara sesuai."

Indonesia mencatat ribuan infeksi dengue setiap tahun. Berdasarkan estimasi Bank Dunia, pemerintah menghabiskan 5,7 persen dari produk domestik bruto untuk kesehatan publik, atau setara US$99 per orang per tahun, dibandingkan dengan $459 di Malaysia.

Subuh mengatakan kementerian secara aktif memantau Zika, tapi para ahli mengatakan pihak berwenang kesulitan mengidentifikasi pasien karena hanya sedikit rumah sakit yang menyediakan uji Zika. Dari rumah-rumah sakit tersebut, pasien diminta membayar lebih dari Rp 2 juta untuk sekali tes.

"Tantangan terbesar saat ini adalah bahwa kita mungkin melewatkan pasien-pasien yang terinfeksi Zika karena kurangnya fasilitas dan pengujian," ujar Tedjo Sasmono, ilmuwan di Lembaga Eijkman Jakarta, salah satu dari dua fasilitas di Indonesia yang dapat mendiagnosis Zika.

Lembaga tersebut tidak secara khusus menerima dana pemerintah untuk ZIka dan bergantung dari dana-dana rumah sakit swasta, ujarnya.

Sebagian besar orang yang terinfeksi Zika memiliki gejala ringan namun infeksi pada perempuan hamil telah menyebabkan kecacatan kelahiran mikrosefalus dan kelainan otak lainnya.

Pada orang dewasa, infeksi Zika juga telah dikaitkan dengan sindrom syaraf langka yang dikenal sebagai Guillain-Barre, dan kelainan syaraf lainnya.

Para ahli di kawasan ini mengatakan laporan penyebaran Zika di seluruh Asia Tenggara kemungkinan akan lebih rendah karena otoritas-otoritas kesehatan gagal melakukan penyaringan yang layak. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG