Tautan-tautan Akses

Kemendiknas Luncurkan Kompetisi Karya Film Dokumenter Aceh 2014

  • Budi Nahaba

Prof.Kachung Marijan, Dirjen Kebudayaan Kemendiknas RI, membuka secara resmi kompetisi film dokumenter Aceh (ADC) 2014, di Banda Aceh, 30 Januari 2014 (VOA/Budi Nahaba).

Prof.Kachung Marijan, Dirjen Kebudayaan Kemendiknas RI, membuka secara resmi kompetisi film dokumenter Aceh (ADC) 2014, di Banda Aceh, 30 Januari 2014 (VOA/Budi Nahaba).

Prof. Kachung Marijan selaku Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI membuka secara resmi Kompetisi Karya Film Dokumenter Aceh (ADC) 2014 di Banda Aceh, Rabu (29/1).

Banda Aceh menjadi tuan rumah kegiatan peluncuran Kompetisi Karya Film Dokumenter Aceh (Aceh Documentary Competition-ADC) 2014 yang digagas para sineas muda Aceh dan didukung Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Prof. Kachung Marijan selaku Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI membuka secara resmi Kompetisi Karya Film Dokumenter Aceh (ADC) 2014 di Banda Aceh, Rabu (29/1).

“Kompetisi film lokal ada di Bandung, Yogyakarta dan Solo, namun khusus Aceh ini baru satu-satunya kompetisi yang mengangkat karya-karya dokumenter. Mudahan-mudahan peserta ke depan bisa diikuti oleh peserta daerah-daerah lain. Saya optimistis Aceh tidak hanya sekedar makmur secara ekonomi, tetapi juga kuat secara kebudayaan,” kata Prof. Kachung Marijan saat membuka ADC ini.

Turut hadir dalam peluncuran ADC, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah, Sekda Kota Banda Aceh, Seniman, Budayawan, dan para sineas Aceh. Acara diisi dengan beragam pertunjukan seni budaya, musikalisasi Puisi dan testimoni Alumni ADC 2013 lalu.

Pejabat pemerintah Aceh, Said Mustafa menyampaikan amanat Gubernur Aceh Dr Zaini Abdullah yang memuji kreatifitas kaum muda dan berharap pemuda Aceh mampu menghasilkan karya film dokumenter terbaik tentang Aceh.

Menurut pihak penyelenggara, kompetisi ADC tahun 2014 ini mengangkat tema “Soul of Culture” yang menekankan pentingnya kaum muda Aceh membantu mendokumentasikan nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yang diharapkan dapat menjadi inspirasi masyarakat baik level regional maupun global.

Direktur Program ADC 2014 M. Azhari mengatakan, kompetisi akan berlangsung mulai Januari hingga September 2014. Kompetisi ditujukan untuk mendokumentasikan, mencari individu atau kelompok maupun simbol maupun nilai-nilai budaya yang pernah lahir dan berkembang di Aceh. Peserta ADC tidak harus mereka yang memahami sinematografi, atau perfilman, tapi peserta punya ide cerita yang menarik, berdasarkan riset yang kuat.

Sementara itu para praktisi perfilman menyarankan agar kompetisi jauh lebih meriah, sektor swasta perlu lebih berperan mendukung program kompetisi film dokumenter Aceh di masa depan melalui program tanggungjawab perusahan (CSR).

Tahun 2013 lalu, lima karya terbaik hasil dari Kompetisi film dokumenter Aceh Tahun 2013 ditayangkan di Kota Takengon, provinsi Aceh. Peserta kompetisi mengaku, pemutaran karya film terbaik dari kompetisi kali ini merupakan yang terbesar pertama yang pernah digelar di Aceh.

Salah satu dari kelima karya film dokumenter terbaik yang identik dengan Takengon atau wilayah pegunungan tengah provinsi Aceh, adalah "Perempuan Kopi", karya Iwan Bahagia SP dan Edi Santosa.

Sutradara film dokumenter “Perempuan Kopi”, Edi Santosa mengatakan lebih 2.000 buruh perempuan sebagai pekerja pemetik kopi di Aceh Tengah dalam kondisi memprihatinkan. “Karena mayoritas (perempuan). Pemetik kopi di Bener Meriah dan Aceh Tengah sekitar 2.000 orang, dari memetik kopi di kebun sampai menyortir biji kopi di pabrik. (Hal) ini yang membuat kami terinspirasi," demikian penuturan Edi Santosa.

Pengamat mengatakan selain karya-karya dokumenter dunia yang terus berkembang pesat era 80-an, karya momumental terkait Aceh yang berhasil dibuat dalam film layar lebar, “Tjoet Nja' Dhien" merupakan sebuah film drama epos biografi sejarah Indonesia. Film karya Eros Djarot ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia 1988. Film ini dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien.

Film ini sempat diajukan Indonesia kepada Academy Awards ke-62 tahun 1990 untuk penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik, tetapi tidak lolos dalam pencalonan nominasi. Pada 1989 film ini menjadi film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes, Perancis.
XS
SM
MD
LG