Tautan-tautan Akses

Kemacetan Jakarta Buka Peluang Bisnis


Kemacetan lalu lintas yang parah di Jakarta. (AP/Tatan Syuflana)

Kemacetan lalu lintas yang parah di Jakarta. (AP/Tatan Syuflana)

Karena masalah ini kelihatannya tidak akan segera reda, beberapa pengusaha melihat peluang bisnis untuk membantu warga melalui kemacetan di ibukota.

Kemacetan lalu lintas di Jakarta merupakan sumber kekesalan tetap bagi warga. Karena kelihatannya tidak akan segera reda, beberapa pengusaha melihat peluang bisnis untuk membantu warga melalui kemacetan di ibukota.

Para warga komuter menghabiskan tiga sampai empat jam sehari dalam mobilnya di jalanan Jakarta, sebuah situasi yang menurut pengusaha Nadiem Makarim membuang-buang produktivitas. Kecepatan lalu lintas rata-rata adalah 8,3 kilometer per jam, lebih lambat daripada rata-rata kecepatan peserta lomba lari dalam jarak yang sama.

Namun tidak efisiennya lalu lintas Jakarta juga membuka peluang bagi pengusaha seperti Nadiem, yang telah meluncurkan aplikasi ponsel pintar yang membuat warga bisa menyewa tukang ojek mengantar jemput, mengantar atau mengambil barang, atau bahkan membeli makanan dan berbelanja.

Sejak peluncuran aplikasi itu bulan Januari, jumlah tukang ojek berjaket hijau yang bergabung dengan Nadiem telah melonjak 10 kali lipat menjadi 10.000 orang. Aplikasi itu sendiri telah diunduh hampir 400.000 kali dalam enam bulan, sebuah rekor nasional.

"Saya menciptakan GO-JEK karena saya sangat memerlukannya," ujar Nadiem kepada kantor berita Reuters, di sela-sela acara tahunan New Cities Summit, tempat lebih dari 800 CEO, walikota, pemikir, seniman dan inovator bertemu untuk membahas perubahan urban.

Kemacetan di Jakarta merupakan salah satu penghalang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Para pejabat mengatakan kemacetan -- yang disebut-sebut terparah di dunia oleh perusahaan pelumas Castrol berdasarkan analisis mengenai berhenti dan bergeraknya kendaraan di jalan -- menghabiskan biaya sekitar Rp 65 triliun per tahun.

Merosotnya investasi infrastruktur setelah krisis moneter Asia pada akhir 1990an, permasalahan pembebasan lahan untuk pembangunan, konflik antara kantor dinas, dan buruknya perencanaan membuat transportasi publik di Jakarta tidak dapat menampung banyaknya jumlah orang yang bergerak di dalam kota.

Populasi ibukota naik 120.000 orang per tahun sebagian karena urbanisasi, memberikan tekanan kuat pada instrastruktur yang sudah kepayahan, misalnya transportasi.

Dengan pendapatan tahunan rata-rata sekitar $3.800 per kapita, lima kali lipat rata-rata nasional, para migran membanjiri Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik dari tempat asal di desa.

"Urbanisasi yang meningkat ini terjadi kebanyakan di Asia," ujar John Rossant, ketua New Cities Foundation. "Tidak ada yang seperti ini dalam sejarah manusia."

Selain GO-JEK, aplikasi pemandu lalu lintas Waze laku keras diantara warga Jakarta, yang menggunakannya untuk mencari jalur tercepat menghindari kemacetan dan untuk memberi peringatan pada pengguna lain mengenai kecelakaan, banjir dan bahkan polisi pemalak di sudut-sudut jalan.

"Jakarta memang pasar besar untuk kita," ujar juru bicara Waze, Julie Mossler. Jakarta secara rutin masuk dalam 10 besar di antara 200 pasar Waze di dunia, dengan 800.000 pengguna.

Ketidakefisienan juga menciptakan peluang untuk bisnis teknologi rendah, misalnya joki yang mendapat Rp 20.000 sekali sewa untuk melalui jalan '3-in-1'.

Selain itu ada 'Pak Ogah' yang mengatur jalanan dengan imbalan uang receh dari pengendara, dan toko-toko swalayan kecil yang menawarkan makanan, minuman dan koneksi Internet sambil menunggu kemacetan mereda.

Pemerintah Jakarta sekarang menanamkan modal untuk transportasi publik yang lebih baik. Konstruksi sistem kereta massal dimulai pada 2013, setelah ditunda berpuluh tahun, dan dijadwalkan beroperasi tahun 2018.

Namun, karena sedikitnya ada 1.000 mobil dan sepeda motor baru setiap hari di jalanan, para pengusaha tidak melihat ada ancaman segera untuk model-model bisnis mereka.

"Saya akan dengan bahagia menutup GO-JEK jika Jakarta dapat mengatasi masalah kemacetan," ujar Nadiem. "Sayangnya, kelihatannya mustahil mengatasi hal ini dalam 10 tahun mendatang."

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG