Tautan-tautan Akses

Kelompok Santoso Tidak Berhenti Rekrut Anggota Baru

  • Fathiyah Wardah

Papan reklame polisi yang menunjukkan daftar buronan kasus terorisme, termasuk Santoso, di Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: Dok)

Papan reklame polisi yang menunjukkan daftar buronan kasus terorisme, termasuk Santoso, di Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: Dok)

Kelompok Santoso tidak akan berhenti merekrut anggota baru karena kelompok ini berniat menjadikan Poso sebagai 'koidah aminah' atau tempat aman bagi teroris untuk membangun kekuatan.

Anggota Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto kepada VOA, Rabu (20/7) mengatakan tewasnya pemimpin Mujahidin Indonesia Timur Santoso alias Abu Wardah merupakan pukulan telak bagi kelompok Negara Islam (ISIS).

Menurutnya, Santoso merupakan tokoh teroris yang secara tegas memberikan dukungan dan bersumpah setia kepada ISIS. Tewasnya Santoso bukan jaminan ancaman teroris di Indonesia menghilang karena orang kepercayaan Santoso, Mohamad Basri alias Bagong masih berkeliaran di Poso, Sulawesi Tengah, ujarnya.

Menurut Wawan, sosok Basri-lah yang akan menggantikan Santoso menjadi pemimpin Mujahidin Indonesia Timur. Sebelum bergabung dengan Santoso, Basri sempat dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Ampana, Sulawesi Tengah karena kasus terorisme.

Namun ia kabur ke Bima, Nusa Tenggara Barat, dan menikah di sana sebelum membawa istrinya ke Poso untuk bergabung dengan kelompok Santoso.

Setelah bergabung dengan Santoso, Basri diantaranya pernah menembak Pendeta Susiyanti di Gereja Palu 2003 dan terlibat peledakan bom di lapangan Kasintuwu pada 2006.

Wawan menyatakan kelompok Santoso tidak akan berhenti merekrut anggota baru karena kelompok ini berniat menjadikan Poso sebagai koidah aminah atau tempat aman bagi teroris untuk membangun kekuatan.

Untuk itu, lanjut Wawan, operasi Tinombala dalam menumpas teroris harus terus dilakukan.

"Mereka tetap akan melakukan rekrutmen dan mencari bibit baru. Di sana kan berupaya (menjadi) daerah basis. Basri merupakan tokoh yang dianggap punya keberanian, tokoh yang selama ini tidak mudah menyerah. Dia orang dekatnya Santoso," ujarnya.

Santoso, 40 tahun tewas dalam penyergapan yang dilakukan Tim Alfa 29 Batalion Infanteri Raider 515 Kostrad dari TNI yang tergabung dalam Tim Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah Senin (18/7).

Dalam peristiwa tersebut, Santoso dan anak buahnya, Mukhtar, tewas tertembak. Adapun tiga anggota teroris lainnya, termasuk Basri, melarikan diri.

Mantan kepala BNPT, Ansyaad Mbai mengatakan, aparat harus melindungi masyarakat khususnya di sekitar tempat kejadian tewasnya Santoso.

"Yang penting dilakukan oleh satgas adalah melindungi masyarakat sekitar tempat kejadian karena dari pengalaman ketika Daeng Koro atau Slamet Subagio, tangan kanannya Santoso, tewas, maka dua atau tiga minggu setelah itu, mereka memenggal petani asal Bali di sekitar tempat kejadian itu karena dianggap masyarakat itu membocorkan rahasia mereka, melaporkan keberadaan mereka kepada aparat," ujarnya.

Wawan Purwanto menyatakan aparat keamanan harus tetap waspada karena di saat suasana sudah tenang, kelompok teroris akan melakukan konsolidasi lagi dan dikhawatirkan akan melakukan aksi teror. Sekarang ini anggota kelompok Santoso yang belum tertangkap berjumlah 19 orang.

XS
SM
MD
LG