Tautan-tautan Akses

AS

Kelompok Minoritas AS Tuntut Kebijakan Nyata dari Para Capres


Calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, berbicara dalam kampanye di Manchester, New Hampshire (25/8). (AP/Gerald Herbert)

Calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, berbicara dalam kampanye di Manchester, New Hampshire (25/8). (AP/Gerald Herbert)

Sejauh ini, yang tidak disampaikan Trump adalah proposal kebijakannya sendiri yang jelas, dan sebaliknya merujuk pada sejarah reformasi kesejahteraan dan penahanan era Bill Clinton.

Kampanye calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump terus berusaha untuk menjangkau pemilih kulit hitam dan Latin dimana ia tertinggal jauh dalam jajak-jajak pendapat.

Trump secara nasional berada di belakang Hillary Clinton dari Partai Demokrat di antara warga Amerika keturunan Afrika, dengan Clinton mendapat 87 persen dan Trump 8 persen. Di antara warga Hispanik, Clinton 73 persen sementara Trump 22 persen.

Hari Kamis (25/8), Trump bertemu dengan para aktivis kulit hitam dan Latin di markas kampanyenya di New York untuk membahas keprihatinan-keprihatinan utama di antara kelompok minoritas.

Para peserta pertemuan itu telah mengumumkan program enam minggu untuk mendorong orang memilih, melatih lebih dari 200 relawan yang datang ke rumah-rumah penduduk dan menyebarkan kebijakan ekonomi Trump yang disebutnya menguntungkan kaum minoritas.

Dalam pidato baru-baru ini, Trump menilai catatan Clinton dengan pemilih kulit hitam, menyebutnya “penipu” dan mengatakan ia “tidak punya belas kasihan pada komunitas miskin di kota”.

Berbicara kepada hadirin yang umumnya berkulit putih di New Hampshire hari Kamis, Trump meningkatkan retorikanya.

“Setiap kebijakan yang didukung Hillary Clinton adalah kebijakan yang gagal dan mengkhianati masyarakat kulit hitam dan minoritas lainnya di negara ini. Dia tidak peduli. Ia terlalu sibuk mengumpulkan uang dari orang-orang yang mencurangi sistem," ujarnya.

Sejauh ini, yang tidak disampaikan Trump adalah proposal kebijakannya sendiri yang jelas, dan sebaliknya merujuk pada sejarah reformasi kesejahteraan dan penahanan yang ditegakkan tahun 1990-an oleh mantan Presiden Bill Clinton dan didukung oleh mantan ibu negara ketika itu.

Clinton dalam kampanye di Reno, Nevada membalas kembali serangan Trump yang disebutnya “laki-laki yang punya sejarah panjang diskriminasi rasial.”

“Berani sekali meminta rakyat yang ia abaikan dan tidak diperlakukan dengan baik selama beberapa dekade, 'apa ruginya?'. Jawabannya adalah 'rugi segalanya!'.”

Di pihaknya, para aktivis kulit hitam menanyakan jika Trump peduli dengan komunitas mereka, mengapa ia belum menyebut organisasi pimpinan minoritas apapun.

“Trump menjadikan dirinya tontonan dengan berbicara kepada komunitas kulit putih tentang komunitas kulit putih,” kata Hazel Dukes,presiden Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Warga Kulit Berwarna (NAACP) cabang New York.

Ia “tidak tulus,” kata Dukes dalam wawancara dengan VOA dan menambahkan bahwa NAACP pernah mengundangnya untuk berpidato tapi Trump menolak. [my/al]

XS
SM
MD
LG