Tautan-tautan Akses

Kekurangan SDM Hambat Sektor Teknologi Indonesia


Presiden Joko Widodo bersama CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, 2014.

Presiden Joko Widodo bersama CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam kunjungan ke Pasar Tanah Abang, Jakarta, 2014.

SDM-SDM yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan langka akibat kelemahan sistem pendidikan, kurangnya pengalaman dan gaji kecil dibandingkan di Amerika Serikat.

Peritel daring Bilna perlu waktu dua tahun untuk mencari direktur bidang teknologi (CFO) sebelum akhirnya menemukan Ridy Lie, yang beru pulang ke Indonesia setelah bekerja selama delapan tahun di Amazon, AS.

Sebelum Lie, perusahaan itu kesulitan mendapatkan seseorang yang dapat "membawa kita ke level berikutnya," ujar Eka Himawan, direktur keuangan perusahaan, yang telah diganti namanya menjadi Orami setelah bergabung dengan perusahaan lain tahun ini.

"Dia lah yang memandu (para insinyur) dan memberitahu mereka: seperti inilah cara kerja Amazon dan begini seharusnya kita melakukannya," ujar Himawan.

Bahkan saat raksasa-raksasa internet seperti Alibaba dan SoftBank sedang berinvestasi besar-besaran dalam perusahaan baru teknologi termasuk di Indonesia, perekrutan eksekutif-eksekutif berbakat ternyata merupakan hambatan besar dalam sektor teknologi negara ini.

Indonesia adalah negara terpadat di wilayah ini di mana 3,8 juta pengguna internet aktif mengakses internet setiap bulan. Laporan baru-baru ini dari Google dan perusahaan Temasek milik pemerintah Singapura memperkirakan bahwa Asia Tenggara perlu menarik investasi US$40 miliar-$50 miliar untuk sektor-sektor seperti perdagangan daring dalam 10 tahun mendatang untuk berpotensi menjadi ekonomi internet bernilai $200 miliar, dimana Indonesia dapat menarik bagian besar.

Namun SDM-SDM yang diperlukan dalam sektor ini untuk mendorong pertumbuhan adalah langka. Hal ini terutama akibat kelemahan sistem pendidikan di Indonesia, kurangnya pengalaman dan gaji kecil dibandingkan di Amerika Serikat.

Pekerja berketerampilan tinggi mencakup hanya sekitar 10 persen dari seluruh pekerja di negara berpenduduk 250 juta ini, rasio terendah dibandingkan negara besar Asia Tenggara lainnya, menurut Forum Ekonomi Dunia.

"Hal ini menyebabkan pertumbuhan lebih lambat. Jika saya bandingkan sebuah perusahaan baru (startup) di Indonesia dengan di tempat lain, di sini cenderung kurang efisien dan kurang berteknologi 'cutting edge'," ujar Vinnie Lauria, salah satu mitra pendiri perusahaan Golden Gate Ventures di Singapura.

Beberapa investor memindahkan pekerjaan ke negara lain (offshore) untuk mengisi kesenjangan SDM ini. Namun sejauh ini, tidak ada perusahaan teknologi swasta Indonesia yang telah mencapai valuasi lebih dari $1 miliar, dibandingkan dengan lebih dari 20 di China.

"Solusi terakhir adalah memecahkan masalah di luar negeri," ujar Adrian Vanzyl, CEO dari Ardent Capital di Thailand, kepada Reuters bulan April.

Ardent telah berinvestasi di perusahaan logistik Thailand, aCommerce, yang memiliki insinyur di Indonesia namun menyerahkan "banyak pengembangan sarana utama" kepada staf di Thailand, ujarnya.

Cara lain adalah dengan mendekati orang-orang dengan pengetahuan khusus untuk menjadi konsultan startup lokal secara temporer.

"Selama tiga atau enam bulan untuk membantu menumbuhkan perusahaan," ujar Chua Kee Lock, kepala eksekutif di Vertex Venture Holdings, bagian dari Temasek, kepada Reuters.

Hambatan ke Depan

Kekurangan SDM terampil hanyalah salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi investor startup dan teknologi di Indonesia. Yang lainnya adalah kesulitan mendapatkan materi untuk melatih insinyur atau teknisi sampai logistik yang buruk dan kebijakan yang tidak jelas.

Ketika supir-supir taksi di Jakarta memprotes dengan kekerasan terhadap aplikasi-aplikasi kendaraan seperti Grab dan Uber bulan April, pemerintah menyerah pada tekanan dan memaksa perusahaan-perusahaan teknologi untuk bermitra dengan perusahaan transportasi lokal.

Pemerintah juga mencoba mendapatkan pajak yang berlaku surut dari Yahoo dan Twitter, dan telah memerintahkan perusahaan-perusahaan yang menghasilkan konten di internet untuk membuka perusahaan di Indonesia dan membayar pajak.

Indonesia ada di peringkat 109 dari 189 negara dalam hal kemudahan melakukan bisnis, menurut sebuah studi Bank Dunia, di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Namun bagi perusahaan-perusahaan startup dan investor mereka, kekurangan SDM adalah kesulitan paling besar.

"Sangat sulit mendapatkan SDM bagus. Sistem pendidikan tidak sesuai -- apa yang diajarkan di universitas tidak banyak berguna dalam pekerjaan," ujar Lie, yang pernah bekerja dalam tim teknik pengembangan di Amazon sebelum bergabung dengan Orami.

Pemerintah berencana mengatasi kekurangan SDM ini dengan memasukkan pelajaran coding atau pemrograman komputer dalam kurikulum sekolah negeri dan melalui transfer pengetahuan dari investor asing.

"Ada banyak modal tersedia... dan Indonesia meledak dalam setiap tahapan," ujar Vanzyl dari Ardent.

"Mengapa pertumbuhan kurang cepat? Jawabannya adalah kurangnya SDM. Itu faktor nomor satu." [hd]

XS
SM
MD
LG