Tautan-tautan Akses

Kekeringan, Jawa Barat Mulai Alami Krisis Air

  • R.Teja Wulan

Seorang petani di Kabupaten Bandung terpaksa memanen padi lebih cepat untuk mengurangi kerugian akibat kekeringan, 27 September 2014 (Foto: VOA/Tedja Wulan)

Seorang petani di Kabupaten Bandung terpaksa memanen padi lebih cepat untuk mengurangi kerugian akibat kekeringan, 27 September 2014 (Foto: VOA/Tedja Wulan)

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas, diharapkan masyarakat khususnya petani berpartisipasi aktif dalam pembagian giliran penyaluran air.

Kekeringan yang melanda kabupaten/kota di Jawa Barat sebagian besar mengakibatkan sawah tidak teraliri air. Bahkan, di beberapa daerah, ratusan hektar sawah terancam gagal panen. Kekeringan juga melanda daerah lumbung padi, seperti Kabupaten Indramayu, Cirebon, dan Karawang.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya sudah mengimbau para petani di Jawa Barat agar menanam tanaman palawija yang lebih tahan musim kemarau seperti jagung dan kedelai. Namun, imbauan ini menurutnya seringkali tidak dilaksanakan oleh para petani.

“Dari sisi pengaturan pertanian tentu kita kan sering mengimbau, menata masyarakat kalau di musim seperti ini jangan (menanam) padi, ganti ke jagung atau kedelai. Nah ini seringkali yang tidak ditaati oleh para pihak,” kata Ahmad Heryawan.

Gubernur menambahkan, untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang semakin meluas, diharapkan masyarakat khususnya petani berpartisipasi aktif dalam pembagian giliran penyaluran air.

“Di lapangan ada namanya ‘Mitra Cai’, kelompok masyarakat, relawan masyarakat yang menata, membagi distribusi air. Kita berharap para ‘Mitra Cai’ untuk membagi-bagi, jam berapa di kawasan mana, jam berikutnya di kawasan mana. Insyaallah dengan cara begitu masih memungkinkan kita panen dengan baik, meskipun tidak sebaik di musim penghujan,” lanjutnya.

Seorang petani asal Ciparay, Kabupaten Bandung, Kosasih mengatakan, untuk mengatasi kekeringan, ia bersama petani lainnya terpaksa menyewa mesin penyedot air untuk mengalirkan air Sungai Citarum ke areal persawahan mereka. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih sehari-hari, warga Ciparay mengebor tanah hingga kedalaman 45 meter untuk membuat sumur.

“Sudah terasa sawah kekeringan, air bersih kekurangan. Ya solusinya menguasahakan dari air Sungai Citarum, disedot pakai mesin. Dibor aja buat air bersih mah, paling dalam 45, 35 meter kexdalamannya. Ya minta ke pemerintah saja, bagaimana itu solusinya,” kata Kosasih.

Sementara itu, Gubernur mengungkapkan, kondisi di beberapa kota besar seperti Bandung, kebutuhan air bersih untuk warga masih bisa terpenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM Kota Bandung.

Sebanyak 70 persen warga Kota Bandung berlangganan air bersih dari PDAM. Sementara sebagian warga lainnya mengkonsumsi air mineral dalam kemasan galon untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk minum.

XS
SM
MD
LG