Tautan-tautan Akses

50 Ribu Mengungsi akibat Ketegangan di Perbatasan Myanmar-China


Ribuan warga Myanmar mengungsi dari kota Laukkai di negara bagian Shan, akibat meningkatnya pertempuran pemberontak Kokang dan pasukan Myanmar (17/2).

Ribuan warga Myanmar mengungsi dari kota Laukkai di negara bagian Shan, akibat meningkatnya pertempuran pemberontak Kokang dan pasukan Myanmar (17/2).

Kecemasan meningkat terkait konflik di negara bagian Shan, di Myanmar dekat perbatasan China, menyusul serangan terhadap sebuah konvoi Palang Merah yang mengangkut warga sipil menuju lokasi aman.

Presiden Myanmar Thein Sein segera memberlakukan undang-undang darurat di negara bagian Shan. Sekitar 50.000 orang dilaporkan telah mengungsi, banyak yang melintas perbatasan ke negara tetangganya yaitu China.

Konvoi truk-truk Palang Merah itu, yang mengangkut lebih dari 100 pengungsi dari zona konflik, diserang meskipun memasang gambar bendera Palang Merah berukuran besar.

Kepala Palang Merah Myanmar, Dokter Thar Hla Shwe, mengatakan masih belum jelas siapa pelaku serangan itu. Katanya, saat itu tidak ada operasi militer pemerintah di lokasi tersebut.

“Dua relawan kami cedera, satu di kepala dan lainnya di perut, dan keduanya sudah dirawat di rumah sakit lokal. Kondisi mereka stabil, tetapi kami menyesalkan serangan terhadap para relawan kami karena kami hanya melakukan kegiatan kemanusiaan. Mereka mengenakan rompi Palang Merah dan seharusnya mereka terlindungi,” paparnya.

Kementerian informasi Myanmar menuduh pemberontak melakukan serangan tersebut, dan juru bicara kepresidenan Ye Htut meminta China agar mengekang pejabat lokal di wilayahnya yang mungkin membantu para pemberontak itu.

Konflik pecah tanggal 9 Februari lalu setelah aliansi kelompok bersenjata, termasuk laskar MNDAA, menyerang sejumlah fasilitas militer Myanmar untuk merebut lahan yang dikuasai pemerintah semasa konflik tahun 2009.

MNDAA adalah laskar etnis Kokang pimpinan Peng Jiasheng, yang pernah menguasai kawasan otonomi Kokang hingga ambruknya gencatan senjata yang ditandatangani tahun 1989. Ia diyakini hidup dalam pengasingan di China selama lima tahun ini.

Etnis Kokang menginginkan status otonomi lagi dan menentang pemberlakuan hukum darurat tadi.

Harian pemerintah The Global New Light of Myanmar hari Selasa (17/2) menyebutkan Presiden Thein Sein bertekad tidak akan “kehilangan satu inci-pun lahan,” dan akan mempertahankan kedaulatan. Harian itu juga mengatakan tentara masih menguasai Laukkai, bekas ibukota kawasan otonomi itu.

Pihak pemberontak mengatakan tentara Myanmar telah melancarkan serangkaian serangan udara dengan helikopter. Lebih dari 50 tentara pemerintah dan 26 pejuang Kokang dilaporkan telah tewas.

Awal minggu ini, China mengimbau semua pihak yang terlibat dalam konflik agar menahan diri dan pihak berwenang negara itu mengatakan terus membantu warga Myanmar yang mengungsi.

(Gabrielle Paluch/VOA).

XS
SM
MD
LG