Tautan-tautan Akses

Kekerasan Palestina-Israel Memanas, Polisi Bangun Tembok Pemisah


Warga Palestina mengamati tembok pemisah yang dibangun Israel untuk memisahkan permukiman warga Yahudi dan warga Muslim di Yerusalem timur, Minggu (18/10).

Warga Palestina mengamati tembok pemisah yang dibangun Israel untuk memisahkan permukiman warga Yahudi dan warga Muslim di Yerusalem timur, Minggu (18/10).

Aksi kekerasan warga Palestina terhadap Israel pecah setelah ada kabar bahwa Israel berencana mengambil alih sebuah tempat di Yerusalem timur, yang dianggap suci baik oleh umat Muslim maupun Yahudi.

Dengan senjata dan pisau, seorang warga Israel keturunan Arab hari Minggu (18/10) menyerang sekelompok orang Israel di stasiun bus Beersheba, menewaskan seorang tentara Israel dan mencederai 10 lainnya, sebelum ditembak mati oleh polisi.

Itu adalah serangan paling fatal dalam gelombang kekerasan terbaru beberapa minggu ini antara Palestina dan Israel, yang telah menewaskan delapan orang Israel dan 41 orang Palestina.

Seorang saksi mata, warga Israel Sima Koseshvili mengatakan, “Apakah saya harus hidup di mana saya takut keluar rumah untuk pergi sekolah, untuk bekerja atau belanja? Semuanya menakutkan, saya ingin polisi mengambil tindakan lebih banyak dan memperketat keamanan.”

Polisi Israel mulai membangun tembok antara wilayah perumahan Armon Hanatziv, yang ditempati warga Yahudi, dan desa Jabel Mukaber, yang didiami orang Palestina, di Yerusalem timur guna mencegah kekerasan semakin parah.

Sementara, Anan Matar warga Yerusalem timur berkata, “Ini bagaikan tembok apartheid. Sudah ada tembok pemisah antara kami dan Tepi Barat, tetapi kini ada tembok pemisah lagi di Yerusalem. Mereka ingin memisah warga Yerusalem. Mereka sudah memisahkan kami warga Palestina di Tepi Barat dari Yerusalem, kini mereka hendak memisahkan warga Yerusalem dan memisahkan perumahan-perumahan di Yerusalem dengan Kota Suci dan masjid Al-Aqsa.”

Aksi kekerasan warga Palestina terhadap Israel pecah setelah ada kabar bahwa Israel berencana mengambil alih sebuah tempat di Yerusalem timur yang dianggap suci baik oleh umat Muslim maupun Yahudi.

Umat Muslim menyebutnya masjid al-Aqsa, sementara orang Yahudi memakai nama Temple Mount.

Meskipun Israel membantah tegas akan mengambil alih tempat itu dan mengubah peraturan tentang siapa yang bisa bersembahyang disana, aksi kekerasan belum mereda.

Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry mengatakan serangan terhadap warga sipil “keterlaluan dan tidak bisa dibenarkan.” Tetapi ia tidak secara langsung menyalahkan pihak tertentu.

Kerry minggu ini dijadwalkan bertemu secara terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. [th/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG