Tautan-tautan Akses

Kekerasan Baru di Rakhine Picu Kekhawatiran Masyarakat Myanmar


Polisi Myanmar melakukan patroli di kamp pengungsi etnis Rohingya di Sittwe, negara bagian Rakhine (foto: dok).

Polisi Myanmar melakukan patroli di kamp pengungsi etnis Rohingya di Sittwe, negara bagian Rakhine (foto: dok).

Kekerasan baru di Rakhine menimbulkan pertanyaan tentang prospek perdamaian antara umat Budha dan Muslim Rohingya di Myanmar.

Biara di Sittwe minggu lalu menjadi tuan rumah lebih dari seribu umat Buddha Rakhine, yang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Maungdaw, setelah serangkaian serangan oleh militan yang dicurigai punya hubungan dengan penduduk Rohingya yang tinggal di kota itu. Sembilan polisi dan 30 penyerang tewas dalam serangan itu.

Meskipun belum ada korban di antara warga sipil Rakhine, peningkatan kekerasan itu telah memicu kekhawatiran masyarakat, di mana warga Muslim dan Buddha enggan hidup berdampingan.

"Kami tidak tahu berapa lama kami harus tinggal di sini, kami ingin kembali ke rumah kami, tetapi jika itu kami lakukan, kami akan diserang oleh teroris Muslim," kata Ma Nyo seorang perempuan Myanmar.

Sittwe sudah menampung populasi besar pengungsi, sebagian besar warga Muslim dari minoritas Rohingya, yang terpaksa tinggal di kamp-kamp sejak kekerasan antar agama pada tahun 2012.

Militer Myanmar berusaha memulihkan keamanan melalui operasi yang sedang berlangsung di sekitar Maungdaw untuk menangkap para penyerang, yang katanya berjumlah sekitar 400 orang. Sejauh ini operasi itu dilakukan terbatas pada negara bagian Rakhine bagian Utara.

Tidak banyak rincian operasi yang dirilis, sehingga memicu desas-desus di kamp-kamp bahwa penumpasan terhadap warga Rohingya sudah dekat.

“Saya mendengar, polisi menyerang warga Rohingya, membakar rumah-rumah mereka dan membunuh orang dan sekarang mereka berusaha mencari kami. Sudah ada jam malam di kamp-kamp, jadi saya pikir konflik akan segera terjadi di sini," kata Maung-Maung warga etnis Rohingya.

Karena meningkatnya ketegangan bantuan kemanusiaan sering dilakukan dengan menggunakan warga Rakhine, telah ditangguhkan untuk sementara, yang berarti pengungsi Rohingya tidak bisa mendapatkan perawatan kesehatan atau pendidikan.

Bantuan kemanusiaan secara perlahan kembali dilanjutkan di kamp-kamp itu, tetapi karena militan masih berkeliaran, hubungan antara warga Rohingya dan Rakhine akan memerlukan waktu lama untuk pulih. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG