Tautan-tautan Akses

AS

FBI: Kejahatan Kebencian terhadap Minoritas Naik Tahun Lalu


Warga New York melakukan unjuk rasa agar Kejahatan Kebencian terhadap Minoritas dihentikan saat pemakaman Imam Maulama Akonjee dan Thara Uddin yang ditembak tewas di Queens, New York 15 Agustus lalu (foto: ilustrasi).

Warga New York melakukan unjuk rasa agar Kejahatan Kebencian terhadap Minoritas dihentikan saat pemakaman Imam Maulama Akonjee dan Thara Uddin yang ditembak tewas di Queens, New York 15 Agustus lalu (foto: ilustrasi).

Data terbaru Biro Penyelidik Federal AS (FBI) menyebutkan, kejahatan kebencian naik dari 5.479 menjadi 5.850 kasus tahun lalu, sementara kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Muslim naik ke tingkat tertinggi sejak 2001.

Badan Penyelidik Federal Amerika FBI hari Senin (14/11) melaporkan bahwa kejahatan bermotif kebencian terhadap warga minoritas tahun 2015 naik 7%. Insiden yang menarget warga Muslim bahkan naik pesat 67%.

Kejahatan bermotif kebencian naik dari 5.850 kasus tahun 2014 menjadi 5.479 kasus tahun 2015. Sebaliknya kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Muslim naik dari 154 kasus tahun 2014 menjadi 257 kasus tahun 2015.

Pelanggaran-pelanggaran bermotif bias terhadap warga Muslim juga naik 4,4%, sementara kejahatan bermotif kebencian terhadap agama naik 21% dibanding seluruh bentuk kejahatan bermotif kebencian yang terjadi sepanjang tahun 2015.

“Hate-Crime” terhadap Warga Muslim naik ke tingkat tertinggi

Kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Muslim naik ke tingkat tertinggi sejak serangan teroris 11 September 2001 dan kenaikan kedua tertinggi sejak FBI mulai mengumpulkan data kejahatan semacam ini pada tahun 1992.

Kejahatan kebencian terhadap Muslim melonjak menjadi 257 kasus tahun lalu dari sebelumnya 154 kasus pada tahun 2014, atau melonjak 67 persen.

Peningkatan kejahatan bermotif kebencian terhadap warga Muslim terus berlanjut pada tahun 2016, yang menurut para aktivis dan pakar Muslim ikut disebabkan meningkatnya Islamophobia – atau ketidaksukaan atau prejudice terhadap Islam – reaksi terhadap serangan teror di Amerika dan Eropa, serta pernyataan-pernyataan pedas dalam pemilu presiden yang sengit baru-baru ini.

“Pembalasan terhadap meningkatnya serangan teror di Amerika dan Perancis, meluasnya bias anti-Muslim, dan meluasnya masalah itu dalam dunia sosial-politik tampaknya menjadi dorongan kuat meningkatnya kejahatan bermotif kebencian secara signifikan ini”, ujar Brian Levin – Direktur Center for the Study of Hate and Extremism di Universitas California.

Trump: Saya sedih mendengar hal ini

Dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS Minggu malam (13/11), presiden terpilih Donald Trump – yang retorika kampanyenya dinilai ikut mendorong Islamophobia dan kejahatan bermotif anti-Muslim tahun lalu – mendorong para pendukungnya untuk berhenti melecehkan warga minoritas. “Saya sangat sedih mendengar hal ini”, ujar Trump dalam program “60 Minutes” itu. Dan saya mengatakan “hentikan ini. Jika hal ini membantu maka saya akan mengatakan ini, dan saya akan mengatakannya langsung di depan kamera ini: Hentikan ini!”.

Brian Levin, Direktur Center for the Study of Hate and Extremism Universitas California San Bernardino mengatakan ucapan Trump itu disambut baik, namun tidak cukup jauh menghapus ucapan-ucapannya yang amat beracun sewaktu kampanye.

Sewaktu masih calon presiden Trump mencap imigran Meksiko ‘pemerkosa’ dan ‘pembunuh’ dan mencanangkan untuk sementara mau melarang semua Muslim masuk ke Amerika.

The Southern Poverty Law Center (SPLC) menganjurkan Trump untuk menolak semua ucapannya sewaktu kampanye begitu pula semua dukungan yang diterimanya dari kelompok rasis dan radikal kanan’.

FBI mendefinisikan “hate crime” sebagai pelanggaran kriminal yang sebagian atau secara keseluruhan dilatarbelakangi oleh status sesungguhnya atau penilaian atas status seseorang atau sekelompok orang, misalnya ras dan etnis, agama, disabilitas, orientasi seks, gender dan identitas gender. [em/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG