Tautan-tautan Akses

Kehadiran Militer AS di Filipina Disambut dengan Reaksi Beragam

  • Simone Orendain

Perahu nelayan kecil yang bisa mengangkut 2 hingga 4 orang di Teluk Ulugan, dekat Laut China Selatan di Bahile, provinsi Palawan, Filipina. (Foto: Simone Orendain/VOA)

Perahu nelayan kecil yang bisa mengangkut 2 hingga 4 orang di Teluk Ulugan, dekat Laut China Selatan di Bahile, provinsi Palawan, Filipina. (Foto: Simone Orendain/VOA)

Sebagian orang Filipina yang akan terkena dampak langsung dari keputusan Mahkamah Agung membuka jalan bagi pasukan Amerika singgah di sana, sekarang memberi reaksi beragam.

Nicolas Ellis mengatakan ia senang dengan kehidupannya di kota nelayan Bahile. Sudah puluhan tahun perahu nelayan melewati satu stasiun Angkatan Laut di Teluk Ulugan kurang dari satu kilometer jauhnya. Namun dalam satu atau dua tahun terakhir, katanya, pergi ke Ulugan menjengkelkan. Dua kapal perang Filipina yang berpatroli di kawasan pesisir Filipina di Laut Cina Selatan berlabuh dekat satu pos terdepan yang direncanakan dibangun di Teluk Oyster di dalam kawasan Ulugan. Ellis mengatakan perahu kecil tidak dapat mendekat ke sana.

"Mereka harus memberi kami jalur lintas. Tentu kalau lampu suar kapal itu tiba-tiba diarahkan pada kami, kami akan merasa mengapa. Kami bukan orang jahat. Tidak berbuat salah," kata Ellis.

Aktivitas militer di kawasan itu diperkirakan bakal meningkat. Filipina sedang mendapatkan kapal-kapal lebih besar dari Amerika. Dan di bawah Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang ditingkatkan dan disetujui Mahkamah Agung, bakal bertambah banyak pasukan Amerika yang datang ke Filipina dan menyimpan perlengkapan mereka di pangkalan-pangkalan setempat termasuk satu direncanakan di Teluk Oyster.

Jaring ikan digantung di luar rumah di desa nelayan di Teluk Ulugan, dekat Laut China Selatan di Bahile, provinsi Palawan, Filipina. (Foto: Simone Orendain/VOA)

Jaring ikan digantung di luar rumah di desa nelayan di Teluk Ulugan, dekat Laut China Selatan di Bahile, provinsi Palawan, Filipina. (Foto: Simone Orendain/VOA)

Sekitar 900 kilometer ke arah timur laut, Teluk Subic juga turut dalam peningkatan kegiatan itu. Pelabuhan internasional yang tumbuh pesat itu, yang dulunya pangkalan besar Angkatan Laut Amerika, sekarang pun masih tetap menjadi tempat persinggahan kapal dan kapal selam Amerika.

Ketua Otoritas Metropolitan Teluk Subic, Roberto Garcia mengatakan satu persinggahan bisa menyumbang sampai 500 juta dolar kepada ekonomi setempat. Menurutnya di sana masih ada tempat bagi kapal perang Filipina, sedang bandar udara Subic menjadi landasan bertolak bagi pesawat jet militer.

Garcia mengatakan, "Teluk Subic bisa saya sewakan mahal, tetapi bagi saya yang terpenting adalah keamanan nasional negara. Jadi saya bersedia melupakannya."

Di Bahile, nelayan seperti Nicolas Ellis mengatakan mempunyai hidup yang tenang lebih penting daripada uang yang datang bersama kapal besar dan tentara yang lebih banyak. [al]

XS
SM
MD
LG