Tautan-tautan Akses

Rexy: Kegagalan Badminton di Rio Bencana Besar Bagi Indonesia


Wasit berbicara dengan para pemain Korea Selatan (berpakaian biru) dan atlet-atlet Indonesia (merah) dalam Olimpiade London 2012.

Wasit berbicara dengan para pemain Korea Selatan (berpakaian biru) dan atlet-atlet Indonesia (merah) dalam Olimpiade London 2012.

Rexy Mainaky mengatakan Indonesia akan menghadapi kemunduran besar jika gagal meraih medali lagi pada Olimpiade Rio de Janeiro.

Juara badminton Rexy Mainaky, yang meraih emas untuk nomor ganda di Olimpiade 1996, mengatakan Indonesia akan menghadapi kemunduran besar jika gagal meraih medali lagi pada Olimpiade Rio de Janeiro.

Indonesia mendapat sedikitnya satu medali emas sejak badminton pertama kali disertakan dalam program Olimpiade tahun 1992. Namun para pemain badminton negara ini tidak dapat mengulangi sukses di London tahun 2012.

Salah satu pasangan ganda, Praveen Jordan dan Debby Susanto, mencapai final All-England hari Minggu (13/3) dan Rexy mengakui penampilan mereka "tidak terduga."

"All-England adalah sesuatu yang spesial untuk semua orang di Indonesia dan siapapun yang dapat mengangkat raket, tapi saya bisa lihat tekanannya," ujar Rexy pada kantor berita Reuters.

"Namun ini hal yang baik, belajar banyak dari turnamen besar seperti ini dan bersiap untuk Olimpiade."

Saat ditaya apakah kegagalan mendapat medali dalam satu Olimpiade lagi merupakan bencana, Rexy menjawab: "Ya, tentu saja."

Juara dunia dua kali itu juga menyebut keterlibatan Indonesia dalam skandal "pengaturan pertandingan" di Olimpiade London ketika empat pasang atlet dikeluarkan dari pertandingan.

"Tahun 2012 pasangan top kita melakukan sesuatu yang konyol dan mereka dikeluarkan dari desa Olimpiade," ujarnya. "All-England merupakan simulasi baik untuk para pemain teratas kita untuk meraih medali di Rio."

Rexy saat ini merupakan kepala pengembangan di Persatuan Badminton Seluruh Indonesia, namun hubungannya dengan sebuah kegiatan amal yang diasosiasikan dengan cabang olahraga ini memberinya peluang baru-baru ini untuk keluar dari kinerja elit.

Sebagai duta amal badminton Solibad, Rexy bulan lalu membawa 30 raket dan sepatu ke sebuah daerah di sekitar tempat pembuangan sampah di pinggir Jakarta.

Rexy, yang juga datang dari keluarga miskin, dulu harus menempuh perjalanan tiga jam setiap hari selama lima tahun untuk berlatih di Jakarta.

"Mimpi saya selama bertahun-tahun adalah untuk berbagi bakat saya," ujar Rexy. "Saya merasa beruntung karena saya bbersekolah dan latihan badminton. Ketika saya kecil saya juga merasa seperti mereka." [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG