Tautan-tautan Akses

Kedubes AS Luncurkan Program ‘Hijabi Monologues Indonesia’

  • Alina Mahamel

Peluncuran program Hijabi Monologues Indonesia. (VOA/Alina Mahamel)

Peluncuran program Hijabi Monologues Indonesia. (VOA/Alina Mahamel)

'Hijabi Monologues' adalah sebuah drama teater berisi serangkaian monolog mengenai kisah-kisah nyata dari perspektif pribadi perempuan Muslim.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta meluncurkan program Hijabi Monologues Indonesia yang bekerja sama dengan Center for Civic Education Indonesia (CCEI), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia lewat seni teater.

Hijabi Monologues adalah sebuah drama teater yang dibuat oleh tiga mahasiswi pascasarjana University of Chicago pada 2006. Drama yang berisi serangkaian monolog itu menceritakan kisah-kisah nyata dari perspektif pribadi beberapa perempuan Muslim Amerika.

Sahar Ullah, Direktur Kreatif sekaligus pendiri program Hijabi Monologues, Senin malam (29/7) di Pusat Kebudayaan @america, mengatakan, teater monolog dipilih sebagai wahana bagi perempuan Muslim untuk menceritakan kisah hidup mereka.

“Salah satu alasannya adalah karena dengan cara ini program dapat tumbuh secara organik. Kami dapat memutuskan kisah mana yang bisa ditampilkan dan mana yang tidak ditampilkan. Kisah di sini secara khusus terjadi pada perempuan Muslim tertentu dan tidak mewakili perempuan Muslim secara keseluruhan, dan hanya terjadi pada suatu waktu tertentu, tidak sepanjang hidupnya,” ujar Ullah dalam diskusi dan perbincangan melalui konferensi video dari Amerika.

Menurut Ullah, program Hijabi Monologues ini bertujuan untuk mengkritik stereotip tentang sekelompok perempuan yang nasibnya sering ditentukan oleh orang lain dan menjadi cara membuka jalinan antara orang-orang dari dunia yang berbeda.

Program Hijabi Monologues yang diluncurkan untuk versi Indonesia akan dibuat berdasarkan program aslinya. Cerita-cerita dalam versi Indonesia dari program ini akan dipilih lewat sebuah kompetisi daring yang didukung oleh Kedutaan Besar Amerika dan bekerja sama dengan LSM CCEI.

“Idenya adalah kaum perempuan diberikan kesempatan berbagi perasaan pribadi mereka, baik untuk masyarakat Muslim maupun non Muslim. Kami ingin memberikan kesempatan ini kepada perempuan Indonesia untuk menceritakan kisahnya. Nantinya cerita-cerita itu bisa dipadukan dalam sebuah pertunjukan bersama antara perempuan muslim Amerika dan Indonesia,” ujar pejabat sementara Duta Besar AS untuk Indonesia, Kristen Bauer.

Perempuan Indonesia yang bukan aktris-aktris profesional akan dipilih dan dilatih untuk bermain dalam drama teater Hijabi Monologues yang rencananya akan dipentaskan pada 22 Oktober 2013.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, gagasan dalam program Hijabi Monologues ini, menurut Andi Yentriani, Komisioner dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sejalan dengan apa yang diperjuangkan oleh Komnas Perempuan selama ini.

“Mungkin di kota-kota seperti Jakarta, fenomena hijabers (perempuan berhijab/berjilbab) adalah sebuah gerakan yang menyenangkan, datang dari anak muda yang penuh eksepresi, ingin menyatakan pengetahuan sesuai dengan hati nurani dan merupakan ekspresi beragamaan mereka. Sementara di daerah lain, mereka berhijab karena tidak ada pilihan. Jika tidak berhijab mereka akan dihukum,” ujarnya.

Aktivis perempuan dari Komunitas Hijab Speaks yang menjadi wadah anak-anak muda pengguna hijab, Fika Tri Mujian mengajak sesama pemakai hijab untuk lebih berani berbicara.

“Saya mengjak teman-teman hijaber dan Muslimah untuk speak up agar bisa saling menginspirasi. Jika ada teman-teman yang pake hijab tetap bisa eksis dan berprestasi, akan membuat mereka menjadi semakin semangat dan istiqomah untuk berhijab,” ujarnya.
XS
SM
MD
LG