Tautan-tautan Akses

Fungsikan Bagian Otak Tertentu Bisa Atasi Kecanduan Narkoba

  • Jessica Berman

Para peneliti melaporkan bahwa mereka mampu menghilangkan perilaku kecanduan narkoba pada tikus yang kecanduan kokain dengan merangsang bagian otak yang disebut korteks prefrontal dengan sinar laser. Mereka juga mendapati bahwa efek itu bisa dibalikkan, mengubah tikus menjadi kecanduan kokain (foto: Dok).

Para peneliti melaporkan bahwa mereka mampu menghilangkan perilaku kecanduan narkoba pada tikus yang kecanduan kokain dengan merangsang bagian otak yang disebut korteks prefrontal dengan sinar laser. Mereka juga mendapati bahwa efek itu bisa dibalikkan, mengubah tikus menjadi kecanduan kokain (foto: Dok).

Kecanduan narkoba suatu hari kelak dapat disembuhkan dengan menghidupkan kembali bagian otak pencandu yang tidak berfungsi.

Selama beberapa minggu, para ilmuwan memberikan kokain kepada sekelompok tikus. Kokain adalah senyawa yang berasal dari tanaman koka yang secara luas digunakan sebagai obat terlarang. Tikus-tikus itu dengan cepat menjadi kecanduan. Kemudian, selama empat hari, setiap kali tikus-tikus itu mendorong pengungkit untuk mendapatkan kokain, mereka mendapat sengatan listrik yang ringan dan tidak menyenangkan di kaki mereka.

Antonello Bonci, direktur ilmiah di National Institute on Drug Abuse, dan ikut serta dalam penelitian ini, mengatakan, setelah mendapat sengatan itu, 70 persen tikus berhenti mencari kokain. Namun, 30 persen sisanya terus menampilkan perilaku kecanduan kokain, terlepas dari sengatan listrik pada kaki mereka.

Para ilmuwan membandingkan pola aktivitas sel saraf pada dua kelompok tikus dengan memeriksa sel-sel bagian otak yang disebut korteks prefrontal. Bagian otak ini terlibat dalam fungsi yang lebih tinggi, termasuk pengambilan keputusan, kontrol impuls dan perilaku yang kaku.

Para peneliti menemukan bahwa tikus yang kecanduan itu mengurangi aktivitas bagian korteks otak yang disebut daerah prelimbic, mengindikasikan kelemahan dalam mekanisme pengendalian diri yang diperlukan untuk menolak obat tersebut. Jadi, para peneliti menyusun rencana untuk memperkuat pengendalian diri tikus. Langkah pertama adalah menyuntik bagian otak tadi dengan virus tidak berbahaya yang membawa protein yang sensitif terhadap cahaya.

Setelah beberapa minggu, para peneliti menyisipkan perangkat serat optik kecil ke dalam korteks prefrontal, dan mentransmisikan gelombang cahaya untuk merangsang bagian otak yang lesu.

Hasilnya, menurut Bonci, sangat menakjubkan. "Ketika kami menghidupkan beberapa aktivitas di korteks prefrontal, kami dapat melihat perilaku kompulsif untuk mencari kokain hilang," paparnya.

Kata Bonci, para peneliti kemudian membalikkan proses tersebut, mengubah tikus-tikus yang telah merespon sengatan listrik pada kaki itu kembali berperilaku kompulsif mencari kokain dengan menggunakan teknik serat optik untuk menurunkan gelombang syaraf di korteks prefrontal.

Bonci mengatakan, para peneliti sekarang merancang uji coba pada manusia dengan menggunakan gelombang elektromagnetik dari luar otak untuk meningkatkan aktivitas atau menurunkan aktivitas korteks prefrontal para pencandu narkoba yang sukarela.

"Rencana kami sekarang adalah melakukan uji coba klinis dalam waktu dekat untuk merangsang bagian otak yang tidak aktif dengan pemikiran bahwa kami seharusnya mampu membuat pasien menghilangkan hasrat dan minat untuk menggunakan kokain," papar Bonci lagi.

Penelitian Antonello Bonci dan para ilmuwan di University of California San Francisco ini dimuat dalam jurnal Nature.
XS
SM
MD
LG