Tautan-tautan Akses

Kebun Binatang AS Ambil Langkah Kontroversial untuk Lahirkan Badak Sumatra


Suci, badak Sumatra betina, di Kebun Binatang Cincinnati di negara bagian Ohio (17/7). (AP/Al Behrman)
Suci, badak Sumatra betina, di Kebun Binatang Cincinnati di negara bagian Ohio (17/7). (AP/Al Behrman)

Frustrasi karena ingin melestarikan spesies langka, kebun binatang AS mengambil langkah kontroversial dengan mencoba mengawinkan badak sedarah.

Di tengah keputusasaan dalam upaya melestarikan spesies langka, sebuah kebun binatang di Amerika Serikat mengambil langkah kontroversial untuk mencoba mengawinkan sepasang badak Sumatra bersaudara.

Perkawinan Harapan, 6, dan kakak perempuannya, Suci, dapat dilangsungkan paling cepat Agustus di Kebun Binatang Cincinnati di Ohio, menurut para petugas.

Taktik itu menimbulkan tanggapan kuat, namun Terri Roth, direktur Pusat Konservasi dan Riset Alam Liar Lindner mengatakan ia tidak memiliki pilihan lain.

“Kami mengalami kendala besar dan kami tidak memiliki opsi lain,” ujarnya.

Para ahli konservasi mengatakan ada sedikitnya 100 badak Sumatra yang tersisa di alam liar di Indonesia dan Malaysia. Hanya ada 10 badak yang dipelihara di seluruh dunia. Dari jumlah itu, empat berhubungan dekat, dan tiga dilahirkan dalam beberapa tahun terakhir di Cincinnati.

Seekor badak lagi, dilahirkan di Lampung tahun lalu, merupakan anak dari badak yang dipelihara di Cincinnati dengan badak yang tadinya liar.

Bagi Suci, yang berulangtahun ke sembilan minggu ini, pilihan pasangan yang ada hanyalah saudaranya, ujar Roth.

Badak jantan lainnya yang dipelihara dan dalam usia produktif ada di Indonesia dan merupakan abang Suci.

Harapan, yang hampir menjelang dewasa, dibawa ke Ohio awal bulan ini dari rumah awalnya di Kebun Binatang Los Angeles.

Inseminasi buatan tidak pernah berhasil pada badak Sumatra, jadi menanamkan sperma dari badak jantan bukan alternatif yang bisa dilakukan.

“Kecuali Indonesia mau menangkap lebih banyak binatang dan ada badak jantan yang tidak berhubungan darah tersedia untuk kita, kita tidak memiliki keragaman genetis yang diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu, para ahli mengatakan bahwa badak-badak betina perlu beranak untuk menghindari pembentukan kista di organ-organ reproduksi mereka yang pada akhirnya akan membuat mereka tidak subur.

“Badak-badak betina, jika mereka tidak bereproduksi, cenderung kehilangan kemampuan untuk beranak,” ujar Susie Ellis, direktur eksekutif Yayasan Badak Internasional.

Ellis mengatakan bahwa populasi badak Sumatra telah turun secara dramatis akibat perambahan lahan tempat tinggal mereka dan perburuan atas cula mereka, yang dalam beberapa budaya Asia dianggap memiliki daya sembuh meskipun hanya mengandung keratin sederhana, atau protein yang sama dalam kuku, rambut dan jari.

Meski demikian, keputusan untuk mengawinkan saudara sedarah memiliki risiko, termasuk abnormalitas, mutasi genetis yang berbahaya dan kualitas sperma buruk pada anak.

“Secara umum, kami sangat menentang ide perkawinan sedarah, meski kami sadar bahwa seringkali hal itu tidak membawa masalah,” ujar David Wildt, kepala Pusat Ketahanan Spesies di Lembaga Biologi Konservasi Smithsonian.

“Saya tidak tahu apakah ini solusi. Saya kira ini sebuah solusi, dan ini membuka debat yang sehat. Jika mereka binatang-binatang terakhir di muka bumi, lain persoalan. Tapi situasinya tidak seperti itu.”

Para penjaga kebun binatang berharap pemerintah Indonesia akan mengambil langkah untuk menangkap beberapa badak liar yang mungkin terisolasi akibat penebangan hutan, dan memasukan mereka ke dalam populasi suaka untuk meningkatkan pilihan-pilihan pengembangbiakan.

Roth mengatakan ia sadar akan publisitas, baik atau buruk, yang dihasilkan dari keputusan untuk mengawinkan kakak beradik itu, dan ia berharap hal itu akan meningkatkan ketertarikan masyarakat dalam melestarikan habitat makhluk yang berharga ini.

“Badak Sumatra tidak seperti panda raksasa yang diketahui semua orang dan diikuti beritanya. Saya kira publik perlu mengetahui hal ini,” ujarnya.

“Perlahan-lahan kita akan kehilangan badak ini diam-diam dan saya tidak ingin hal itu terjadi.” (AFP)
XS
SM
MD
LG