Tautan-tautan Akses

Kebijakan Filipina-AS-China Tambah Ketidakpastian di ASEAN


Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri) saat diterima oleh Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam kunjungan Kamis pekan lalu (20/10).

Presiden Filipina Rodrigo Duterte (kiri) saat diterima oleh Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam kunjungan Kamis pekan lalu (20/10).

Perubahan kebijakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada China dan Amerika menambah ketidakpastian baru pada ASEAN.

Kelompok yang beranggotakan 10 negara di Asia Tenggara itu akan memperingati 50 tahun keberadaannya tahun depan. Kelompok ASEAN yang kini diketuai oleh Filipina itu sudah dilanda perpecahan terkait meningkatnya pengaruh China dan peran strategis Amerika di kawasan itu.

Dalam kunjungan resmi baru-baru ini ke Beijing, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan akan “berpisah” dengan Amerika – mitra strategis sejak lama – dan beralih ke China, namun menarik kembali pernyataan itu setibanya di Filipina.

“Ketika saya mengatakan ‘berpisah’ maksud sebenarnya adalah pemisahan kebijakan luar negeri. Pada masa lalu hingga ketika saya menjadi presiden, kita selalu mengikuti apa yang disampaikan Amerika. Pemisahan kebijakan luar negeri kita diperlukan supaya tidak sama persis dengan kebijakan luar negeri Amerika – itu maksud saya”, ujar Duterte.

Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay memastikan kepada masyarakat internasional dengan mengatakan kepada Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Bagi Urusan Asia Pasifik dan Asia Timur Daniel Russel yang sedang melawat ke Filipina, bahwa Duterte “sudah menarik” pernyataannya itu.

Tetapi sejumlah analis mengatakan ketidakpastian perubahan kebijakan Duterteu akan menimbulkan dampak yang lebih besar di ASEAN. [em/al]

XS
SM
MD
LG