Tautan-tautan Akses

Keberhasilan Diet Mungkin Tergantung pada Genetika

  • Jessica Berman

Diet Mediterania, diet rendah karbohidrat, diet Jepang adalah beberapa tren terbaru untuk menurunkan berat badan (foto: ilustrasi).

Diet Mediterania, diet rendah karbohidrat, diet Jepang adalah beberapa tren terbaru untuk menurunkan berat badan (foto: ilustrasi).

Sebuah studi baru menemukan bahwa gen Anda menentukan diet mana yang cocok untuk Anda.

Sepertinya setiap minggu muncul diet baru, yang jika diikuti, menjamin penurunan berat badan dan kesehatan yang baik. Diet Mediterania, diet rendah karbohidrat, diet Jepang adalah beberapa tren terbaru.

Sekarang, sebuah studi baru menemukan bahwa gen Anda menentukan diet mana yang cocok untuk Anda. Dengan menggunakan tikus yang dibiakkan secara khusus, para peneliti menguji sejumlah diet untuk melihat mana yang berhasil, mana yang tidak, dan apakah diet tertentu menimbulkan gangguan kesehatan.

Mereka menggunakan empat jenis tikus yang dibiakkan secara khusus dengan genetika mewakili populasi umum.

Peneliti itu menemukan beberapa diet menurunkan berat badan sebagian tikus tetapi tidak berhasil pada tikus lain atau bahkan memperburuk kesehatannya.

William Barrington, ahli genetika di North Carolina State University yang membantu melakukan penelitian tersebut, menjelaskan, "Kita umumnya melihat diet dengan cara yang sama selama seratus tahun terakhir, dengan asumsi bahwa ada satu diet yang optimal. Dan apa yang kami temukan adalah bahwa dampak diet tergantung pada genetika seorang yang mengonsumsi makanan dengan diet itu. Jadi, jika teman Anda memberitahu Anda, 'Saya sudah mencoba diet yang sangat bagus. Ini sangat baik buat saya. Anda harus mencoba ini.' Diet itu mungkin memiliki efek yang berbeda untuk Anda."

Selama enam bulan, masing-masing tikus dari jenis yang sama mendapat diet berbeda: satu diberi makan diet Barat yang tinggi lemak, yang lain diberi diet Mediterania yang banyak dipuji, yang satu lagi mendapat diet Jepang yang banyak mengandung beras dan teh hijau, dan kelompok terakhir diberi diet ketogenic, makanan yang karbohidratnya rendah dan berlemak tinggi.

Untuk perbandingan, tikus dalam kelompok kontrol diberi makanan standar.

Dalam semua kasus, tikus diizinkan makan sebanyak yang mereka inginkan sementara peneliti terus melacak berapa banyak yang mereka konsumsi dan kesehatan umum mereka, termasuk tanda-tanda pra-diabetes, antara lain obesitas dan penyakit hati berlemak.

Apa yang ditemukan mengejutkan para peneliti itu. Diet Barat, berdampak buruk pada satu jenis tikus, sedangkan tikus jenis lain hanya terpengaruh sedikit atau tidak sama sekali.

"Ada tikus percobaan tertentu yang apapun yang mereka makan, itu benar-benar tidak mengubah status kesehatan mereka ... Mereka sedikit gemuk.. tidak peduli apa dietnya. Jadi, dalam beberapa kasus tampaknya pengaruh diet tidak begitu kuat pada beberapa individu," papar Barrington.

Barrington mengemukakan suatu hari nanti kita bisa menyesuaikan diet khusus untuk orang-orang tertentu agar berhasil.

"Temuan ini benar-benar mendorong kita untuk menentukan faktor genetik apa yang mendasari respons diet, dan bagaimana kita dapat memprediksi individu mana yang akan berhasil untuk gaya diet yang berbeda," tambahnya.

Ini adalah konsep yang disebut gizi yang tepat, mengindikasikan bahwa suatu hari nanti dokter akan dapat menggunakan tes genetika untuk menentukan apakah makanan yang kita konsumsi dapat menurunkan berat badan dan memberikan kesehatan yang baik. [as]

XS
SM
MD
LG