Tautan-tautan Akses

Keberanian Penumpang Bis Lindungi Warga Non-Muslim, Picu Semangat Warga Kenya


Petugas keamanan Kenya dan lainnya berkumpul di lokasi tempat sebuah bis diserang, sekitar 50 kilometer di luar kota Mandera, dekat perbatasan Somalia di timur laut Kenya, Sabtu, 22 November 2014. (Foto: dok.)

Petugas keamanan Kenya dan lainnya berkumpul di lokasi tempat sebuah bis diserang, sekitar 50 kilometer di luar kota Mandera, dekat perbatasan Somalia di timur laut Kenya, Sabtu, 22 November 2014. (Foto: dok.)

Sekelompok pria Islam bersenjata, Senin (21/12), menyerang sebuah bis dari Nairobi menuju ke Mandera di Kenya, dan memerintahkan semua penumpang dipisah menjadi dua kelompok: Kristen dan Islam. Tetapi penumpang Islam menolak menurutinya dan justru melindungi penumpang Kristen.

Sekelompok laki-laki bersenjata yang diyakini sebagai pendukung Al Shabab menembaki sebuah bis di distrik Mandera, di bagian utara Kenya, menewaskan dua orang.

Supir bis wisata Nairobi, Boniface Mbili, mengatakan serangan-serangan Al Shabab ini menimbulkan kecemasan dan merugikan industri pariwisata negara itu.

“Begitu mereka menyerang, mereka membuat seluruh negara ketakutan dan ini merugikan perekonomian, karena orang jadi takut bepergian. Orang merasa tidak aman di mana pun juga, karena mereka bisa menyerang di mana saja. Terutama dalam sektor transportasi,” ujarnya.

Tetapi para penumpang bis yang diserang hari Senin (21/12) menunjukkan keberanian yang luar biasa.

Saksi-saksi mata mengatakan beberapa penumpang Muslim memberikan selendang penutup kepala kepada penumpang non-Muslim untuk membantu menyamarkan identitas mereka, mengingat serangan sebelumnya di Mandera tahun lalu ketika militan membunuh 28 penumpang non-Muslim yang diperintahkan turun dari bis.

Menurut beberapa pejabat lokal, para penyerang memerintahkan semua penumpang turun dari bis dan membagi mereka menjadi dua kelompok: Muslim dan non-Muslim. Tetapi para penumpang menolak, dengan mengatakan militan boleh membunuh mereka semua.

Kelompok bersenjata itu pun pergi.

Warga Nairobi Mohamud Mohamed mengatakan rasa kesetiakawanan ini menunjukkan semangat warga Kenya.

‘’Dari kasus itu, sejak saat ini, kami, warga Muslim, akan berada di barisan terdepan untuk melawan teroris. Teroris tidak perlu membunuh abang saya atau guru, atau dokter yang merawat saya. Jika adaorang yang memisahkan kita berdasarkan agama, membunuh yang satu dan membiarkan yang lain hidup, ini merupakan serangan pengecut, dan kita warga Muslim harus menghadapinya. Apa yang dilakukan para penumpang di Mandera itu sangat berani dan kami benar-benar menyambut baik tindakan mereka. Itu yang kami yakini,” ujarnya.

Mohamed mengatakan serangan seperti itu tidak Islami.

“Islam tidak ada kaitannya dengan teroris. Menyerang orang yang tidak bersalah tidak diperbolehkan dalam Islam. Menurut ajaran Nabi Muhammad, setiap orang harus menjaga saudaranya. Jadi serangan-serangan itu tidak ada hubungannya dengan Islam,” tambahnya.

Al Shabab telah melancarkan sejumlah serangan mematikan di Kenya sejak tahun 2011, ketika pemerintah Kenya mengirim pasukan ke Somalia untuk memerangi kelompok terkait Al Qaeda itu. [em/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG