Tautan-tautan Akses

Keamanan Jepang Disorot Pasca Insiden Penikaman


Para awak media berkumpul di depan pusat perawatan difabel Tsukui Yamayuri-en, di Sagamihara, pinggiran Tokyo pasca insiden penikaman, Selasa (26/7).

Para awak media berkumpul di depan pusat perawatan difabel Tsukui Yamayuri-en, di Sagamihara, pinggiran Tokyo pasca insiden penikaman, Selasa (26/7).

Pembunuhan 19 orang di sebuah panti bagi warga difabel menimbulkan pertanyaan tentang apakah reputasi Jepang sebagai salah satu negara teraman di dunia ternyata menciptakan rasa keamanan palsu.

Pembunuhan massal yang paling banyak menelan korban di Jepang era pasca-Perang Dunia Kedua terjadi Selasa dini hari (26/7) di Sagamihara, sebuah kota yang terletak sekitar 50 kilometer dari bagian barat pusat kota Tokyo. Otorita berwenang mengatakan mantan karyawan panti itu menerobos masuk dan menikam lebih dari 40 orang sebelum kemudian menyerahkan dirinya kepada polisi.

Tersangka – yang diidentifikasi sebagai Satoshi Uematsu yang berusia 26 tahun – telah bekerja di fasilitas itu sejak tahun 2014 hingga Februari 2016, ketika ia diberhentikan. Ia menulis surat ke parlemen membeberkan rencana berdarah itu dan mengatakan semua orang difabel seharusnya dibunuh.

Meskipun tidak lepas dari terjadinya kejahatan, Jepang memiliki tingkat pembunuhan yang relatif rendah, yaitu satu per 100 ribu orang. Pembunuhan massal umumnya terjadi di separuh belahan bumi lainnya dan disaksikan melalui berita malam di televisi, meskipun tujuh warga Jepang ikut tewas dalam aksi penyanderaan dan pembunuhan yang menarget warga non-Muslim di sebuah café di Bangladesh baru-baru ini.

Seorang kriminolog mengatakan karena jarang terjadi pembunuhan massal, Jepang menjadi terlalu percaya diri tentang keamanan negaranya. [em]

XS
SM
MD
LG