Tautan-tautan Akses

Kaum Imigran Ubah Identitas Kultural Australia


Pintu depan kantor pusat BHP Billiton, salah satu perusahaan tambang Australia terbesar, di pusat kota Melbourne. (foto: dok)

Pintu depan kantor pusat BHP Billiton, salah satu perusahaan tambang Australia terbesar, di pusat kota Melbourne. (foto: dok)

Sensus menunjukkan imigrasi dari Asia dan pertumbuhan sektor pertambangan yang pesat mengubah Australia menjadi semakin multikultural.

Data sensus yang dikumpulkan tahun lalu oleh Biro Statistik Australia menunjukkan bahwa populasi Australia mencapai hampir 22 juta orang dan masyarakatnya semakin multikultural karena imigrasi dan pembangunan pusat-pusat ekonomi baru.

Sensus tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertambangan yang pesat telah mengubah cara hidup masyarakat Australia. Banyak orang yang pindah ke negara-negara bagian Australia barat dan Queensland untuk mencari pekerjaan di industri sumber daya, yang digerakkan oleh perdagangan bijih besi dan batubara, yang kebanyakan diekspor ke Asia.

Sektor ini telah membuat banyak orang Australia bertambah kaya, memiliki mobil lebih dari satu dan tinggal di rumah yang besar selama periode krisis finansial global.

Data tersebut juga menyoroti meningkatnya pengaruh Asia. Lebih banyak kaum pendatang berasal dari India dan Cina, yang merupakan mitra dagang Australia terbesar. Sensus ini juga merefleksikan pergeseran dalam ikatan-ikatan sosial dan ekonomi.

Setelah Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin telah menggantikan Bahasa Italia sebagai bahasa yang paling banyak dipakai sehari-hari di rumah tangga Australia.

Victor Dominello, menteri negara bagian New South Wales untuk kewarganegaraan dan multikulturalisme, menyatakan bahwa Australia menjadi semakin beragam saat ini.

“Ada spektrum pandangan yang luas di Australia, seperti juga di dunia, dalam hubungannya dengan multikulturalisme. Namun Australia adalah salah satu negara di mana di negara bagian kami saja, satu dari empat penduduknya lahir di luar negeri,” kata Dominello.

“Di negara bagian kami saja, 40 persen penduduk memiliki paling tidak satu orangtua yang lahir di luar negeri. Saya termasuk bagian statistik tersebut karena kedua orangtua saya lahir di Italia. Namun dalam kenyataannya, jika kita ingin berbicara mengenai multikulturalisme, kita harus membingkai multikulturalisme dalam cara hidup Australia, yaitu dalam hukum dan nilai Australia,” tambahnya.

Migrasi dari India membuat Hindu menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya di Australia. Meski ada kenaikan 40 persen jumlah warga Australia yang mengidentifikasi dirinya beragama Islam, sejumlah besar warga negara mengatakan tidak menganut satu agama apa pun.

Australia, yang merupakan daerah bekas jajahan Inggris, mengalami pertumbuhan penduduk lebih dari 17 juta dalam satu abad terakhir. Populasi terakhir mencapai 21,7 juta, atau naik 8,3 persen dari sensus 2006.

Informasi sensus digunakan untuk membentuk kebijakan pemerintah dan anggaran negara.
XS
SM
MD
LG