Tautan-tautan Akses

Kasus Kekerasan oleh Polisi Terus Muncul, Polri Diminta Benahi Diri

  • Fathiyah Wardah

Pengamanan parat kepolisian di Jakarta dalam mengantisipasi sebuah unjuk rasa. (Foto: dok)

Pengamanan parat kepolisian di Jakarta dalam mengantisipasi sebuah unjuk rasa. (Foto: dok)

Kepolisian diminta lakukan pembenahan dan pengawasan internal menyusul berbagai kasus kekerasan yang dilakukan oleh polisi.

Aksi oknum polisi yang menembak seorang petugas keamanan (satpam) di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat baru-baru ini semakin memperpanjang daftar kelakuan polisi yang brutal. Data Indonesia Police watch mencatat sepanjang Juli hingga November 2013, sebanyak 10 orang tewas dan 16 orang terluka akibat aksi “koboi” polisi.

Kisah memprihatinkan tentang prilaku polisi lainnya baru-baru ini terjadi di Gorontalo dan Aceh. Lima orang polisi memperkosa siswi SMU di Gorontalo berkali-kali sedangkan di Aceh, polisi diduga menganiaya dan menembak pemuda berusia 20 tahun.

Pakar psikologi forensik dari Universitas Indonesia, Reza Indragiri Amriel mengatakan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutarman harus segera melakukan pembenahan dan pengawasan internal serta memperbaiki relasi dengan masyarakat.

Perilaku oknum polisi yang menembak secara serampangan dan tindakan asusila, kata Reza, sangat memalukan dan menyakitkan. Menurutnya saat ini kepolisian juga harus memperbaiki dan mengoptimalkan peran sumber daya manusia, lembaga pendidikan dan hubungan masyarakat di lembaganya.

“Kalau ketiga hal ini dioptimalkan perannya, maka saya optimis sejak proses seleksi berlangsung, perjalanan karir hingga pensiun akan sangat minim kita menyaksikan peristiwa-peristiwa yang memalukan dan menyakitkan hati masyarakat,” ujarnya.

“Untuk pembinaan internal itulah lembaga pendidikan, SDM, kehumasan itu yang harus didorong ibaratnya kalau ada anggaran Polri maka anggaran besar-besarannya harus diarahkan ketiga itu.”

Hal yang sama juga diungkapkan Komisioner Komisi Kepolisian Indonesia (Kompolnas) Logan Siagian. Menurutnya, pengawasan terhadap anggota kepolisian wajib dilakukan.

“Seharusnya tidak ada anggota yang tidak ada pengawasannya setiap hari, setiap detik, tolong publik juga mengawasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie menyarankan kepada Kapolri untuk melakukan tes kejiwaan secara rutin kepada semua polisi untuk mencegah agar tidak terjadi lagi peristiwa yang tidak pantas seperti penembakan oleh oparat keamanan terhadap warga sipil. Menurutnya, polisi dibekali senjata untuk melindungi rakyat dan bukan melukai rakyat.

Sementara itu Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri Irjen Ronny Franky Sompie menyatakan, selama ini pihaknya memang melakukan tes psikologi terlebih dahulu terhadap anggota kepolisian yang memegang senjata api dan memiliki ketentuan yang harus dipenuhi.

Dia mengungkapkan Kapolri Jenderal Sutarman akan melakukan peningkatan pengawasan terhadap anggotanya. Pihaknya, lanjut Ronny, akan menindak tegas siapapun yang melanggar hukum.

“Beberapa kali kejadian seperti ini ada tindakan langsung kepada anggota. Hampir setiap tahun sekitar 300 anggota dipecat karena pelanggaran-pelanggarannya hasil pemeriksaan. Artinya kita harus meneliti secara mendalam kasus per kasus,” ujarnya.
XS
SM
MD
LG