Tautan-tautan Akses

Kasus India Dapat Pengaruhi Ketersediaan Obat Generik

  • Anjana Pasricha

Protes terhadap pematenan obat AIDS, sesuatu yang akan terjadi jika perusahaan farmasi Novartis memenangkan kasus di India. (Foto: Dok)

Protes terhadap pematenan obat AIDS, sesuatu yang akan terjadi jika perusahaan farmasi Novartis memenangkan kasus di India. (Foto: Dok)

Ketersediaan obat generik yang menyelamatkan nyawa pasien akan sangat terbatas jika pengadilan memenangkan hak paten perusahaan Novartis.

Industri obat generik di India mulai berkembang pada 1970an ketika India melarang obat paten, memungkinkan perusahaan domestik, yang tidak punya dana riset, untuk meniru obat bermerk dengan biaya jauh lebih rendah.

Pada 2005, India mengijinkan pematenan obat, namun memasang standar yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya.

Novartis menuntut ke pengadilan pada 2006 setelah India menolak paten untuk Gleevek, obat leukemia. Pemerintah India beralasan bahwa itu bukan obat baru, hanya modifikasi dari jenis terdahulu, sehingga tidak bisa dipatenkan menurut hukum di negara tersebut.

Direktur perusahaan farmasi Swiss tersebut di India, Ranjit Shahani, mengatakan bahwa tantangan hukumnya adalah melindungi hak atas kekayaan intelektual.

“Novartis mencari kejelasan untuk melihat bagaimana inovasi akan dihargai dan dilindungi di India,” ujar Shahani.

“Sekarang Gleevek telah mendapat proteksi paten di 40 negara di dunia termasuk Tiongkok, Taiwan dan Rusia. Perlindungan atas hak kekayaan intelektual benar-benar telah memajukan praktik pengobatan dan membawa harapan untuk para pasien.”

Kasus yang masih berjalan setelah enam tahun, saat ini ada di Mahkamah Agung, tersebut diawasi dengan seksama oleh banyak pihak, karena percabangannya dapat jauh dari sekedar satu obat saja.

Kelompok-kelompok seperti Dokter Tanpa Batas mengatakan bahwa keputusan yang berpihak pada Novartis akan sangat membatasi ketersediaan jenis obat berharga rendah yang digunakan untuk mengobati penyakit genting seperti penyakit karena HIV dan tuberkulosis. Dalma 10 tahun terakhir, obat generik telah mengurangi biaya perawatan tahunan penyakit karena HIV, dari US$10.000 menjadi $150.

Leena Menghaney, pengacara Dokter Tanpa Batas (MSF) di New Delhi mengatakan bahwa obat dengan harga terjangkau ini membawa pengobatan yang menyelamatkan nyawa kepada puluhan ribu orang yang hidup dengan HIV di negara-negara berkembang. Hal itu berlaku karena pemberlakuan standar paten yang lebih ketat.

“Ada lebih dari 180.000 orang dengan HIV yang mengkonsumsi obat generik yang dibuat di India. Sekarang, jika kita tidak yakin apakah di masa yang akan datang kita dapat membeli obat seperti itu, ini berarti bahwa perawatan AIDS yang dilakukan MSF bisa sangat terimbas. Ini juga berarti bahwa perawatan AIDS yang dilakukan pemerintah negara berkembang dapat sangat terpengaruh,” ujar Menghaney.

“Saat ini, sekitar delapan juga orang sedang menjalani perawatan dan dapat dikatakan bahwa sejumlah besar di antara mereka akan terpengaruh. Peningkatan jumlah pasien untuk perawatan AIDS akan menjadi hanya mimpi.”

Persidangan kasus yang monumental tersebut diperkirakan akan berlangsung beberapa minggu.

Para kritikus mengatakan bahwa undang-undang paten di India tidak memenuhi standar dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Sementara itu, para pendukung undang-undang tersebut mengatakan bahwa peraturan tersebut berpihak pada masalah kesehatan publik daripada hak paten perusahaan swasta.
XS
SM
MD
LG