Tautan-tautan Akses

Karzai: Afghanistan dalam Perjalanan Panjang untuk Mandiri

  • Steve Herman

Presiden Hamid Karzai (depan, tengah) dan peserta konferensi untuk bantuan Afghanistan di Tokyo. (Photo: AP)

Presiden Hamid Karzai (depan, tengah) dan peserta konferensi untuk bantuan Afghanistan di Tokyo. (Photo: AP)

Presiden Afghanistan Hamid Karzai berjanji mengendalikan korupsi dan meningkatkan keamanan di negaranya.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan negaranya sedang memulai perjalanan panjang agar dapat mandiri.

Berbicara hari Minggu pada konferensi negara-negara donor di Tokyo, Karzai mengatakan Afghanistan akan bekerja keras selama bertahun-tahun sementara pasukan internasional yang ditempatkan di negara di Asia Selatan itu mulai ditarik mundur.

Negara-negara dan organisasi donor hari Minggu menjanjikan bantuan $16 miliar untuk pembangunan selama empat tahun ke depan bagi negara yang dilanda perang itu. Namun persyaratan bantuan tersebut lebih banyak dalam kerangka akuntabilitas.

Sejumlah bantuan akan ditunda jika Afghanistan tidak bisa memenuhi tolok ukur perbaikan pemerintahan dan manajemen keuangan, serta menjaga proses demokrasi, penegakan hukum dan hak asasi manusia, termasuk perlindungan untuk perempuan dan anak perempuan.

Karzai berjanji kepada para donatur untuk melakukan pemberantasan serius terhadap korupsi. Beberapa kritikus mengatakan sebagian besar dari bantuan masyarakat internasional bernilai $60 miliar sejak Taliban disingkirkan oleh militer Amerika lebih dari 10 tahun lalu telah diselewengkan.

Di luar itu, memang ada kemajuan penting, seperti pendapatan domestik bruto per kapita di Afghanistan yang kini mencapai hampir $600 atau lima kali lebih tinggi dibanding sepuluh tahun lalu.

Presiden Karzai mencatat keberhasilan itu, tetapi juga mengakui bahwa negaranya masih tetap menjadi tempat berbahaya.

“Afghanistan masih terus menghadapi resiko ancaman, khususnya ancaman terorisme dan ekstremisme. Ancaman-ancaman ini tidak saja menimbulkan dampak pada situasi keamanan di Afghanistan, tetapi juga kawasan secara keseluruhan. Dunia di luar kawasan ini pun tidak akan aman selama ancaman terorisme dan ekstremisme ada serta menikmati perlindungan dan dukungan di beberapa sudut kawasan di luar perbatasan Afghanistan,” ujarnya.

Para pejabat dari hampir 60 negara hadir dalam konferensi di Tokyo tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton, yang memberi jaminan bahwa Amerika tidak akan mengabaikan rakyat Afghanistan setelah pasukan tempur Amerika meninggalkan Afghanistan pada 2014.

Sebelum konferensi dimulai, Clinton mengumumkan bahwa Washington telah menetapkan Afghanistan sebagai sekutu penting non-NATO, suatu langkah yang akan memungkinkan Afghanistan menerima bantuan lebih banyak dan lebih cepat dalam masalah keamanan.

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan Afghanistan berada pada titik menentukan dalam sejarahnya, yaitu persiapan bagi transisi menuju masa depan yang lebih stabil. Ia mengatakan Afghanistan memerlukan dukungan kuat untuk melewati masa transisi tersebut.
Ban mengatakan para donatur internasional harus membuat bantuan mereka dapat diandalkan dan diprediksi, tanpa syarat-syarat tidak masuk akal.

PBB mengirim wakil-wakil belasan badan di bawah naungannya dalam konferensi tersebut. Ban Ki-Moon juga menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan janji akan membantu warga Afghanistan guna menghilangkan “kekhawatiran” bahwa mereka akan diabaikan setelah militer asing ditarik mundur”.

“Saya telah mendesak negara-negara anggota agar dukungan mereka atas Afghanistan tidak bersifat sementara atau jangka pendek saja. Mereka harus memberi dukungan jangka menengah atau jangka panjang,” ujar Ban.
XS
SM
MD
LG