Tautan-tautan Akses

Karya Alexander McQueen Menarik Minat Pengunjung Museum di New York

  • Carolyn Weaver

Beberapa karya McQueen yang dipamerkan diantaranya bertema "nasionalisme romantis" yang mengangkat tema negara asal leluhurnya Skotlandia.

Beberapa karya McQueen yang dipamerkan diantaranya bertema "nasionalisme romantis" yang mengangkat tema negara asal leluhurnya Skotlandia.

Sebuah pameran di Museum Seni Metropolitan di New York mencatat rekor pengunjung tertinggi. Sejak dibuka tanggal 4 Mei, lebih dari 225.000 orang telah datang untuk menyaksikan “Savage Beauty,” pameran yang menampilkan hasil karya mendiang desainer Inggris ternama, Alexander McQueen.

Sepanjang 20 tahun karirnya, Alexander McQueen telah menarik banyak penggemar setia dan membantu menghidupkan industri fesyen Inggris. Pameran “Savage Beauty” di Museum Metropolitan tersebut menampilkan sebagian kreasi terliarnya.

Ada gaun malam yang terbuat dari kerang, jaket dengan aksen kepala buaya, topi bulu-bulu yang terlihat seperti kupu-kupu merah, sampai sepatu besi yang super besar.

Kurator Andrew Bolton mengatakan McQueen lebih suka menciptakan pakaian yang unik dan tidak terduga, dibanding yang umum. Ia mengatakan, “Saya rasa McQueen ingin menyentuh emosi orang lewat fesyennya. Ia seperti penyair romantis atau artis abad ke-19. Ia melihat fesyen sebagai sesuatu untuk mengekspresikan identitasnya, dan sebagai fasilitas untuk menggambarkan gagasan dan konsep yang kompleks.”

Bolton mengatakan McQueen mendapatkan inspirasi dari mana-mana: literatur, lukisan, film, sejarah, dan hidupnya sendiri. Darah Scotlandianya juga menjadi inspirasi, yang diperlihatkan dalam koleksi berjudul “Highland Rape” pada tahun 1995. Bahan, potongan dan koyakannya dimaksudkan untuk menggambarkan kekerasan yang dilakukan Inggris terhadap Scotlandia pada tahun 1700-an dan 1800-an ketika ribuan warga Scotlandia dipaksa meninggalkan tanah mereka.

“Ia adalah provokator yang hebat. Dan ia senang memancing reaksi dari masyarakat dan media, dan sering disebut memiliki reputasi buruk oleh media. Koleksi awalnya banyak menggambarkan kemarahan dan cukup agresif dari segi gaya dan penampilan,” ujar Bolton.

Jika bahan-bahan yang dipilih McQueen terlihat mewah, itu berkat keterampilan yang ia pelajari di studio jahit pakaian pria terbaik di London di Savile Row.

McQueen mengatakan ia ingin memberdayakan perempuan dengan cara serupa, dengan memberikan mereka pakaian yang mencerminkan kekuatan – bahkan menyeramkan. Itu juga berarti melawan arus gagasan cantik yang konvensional.

Lebih lanjut Bolton mengatakan, “Ia sering mengatakan bahwa ketika ia berkeliling di jalan-jalan di kota London, ia lebih sering melihat hal-hal yang jelek daripada yang bagus. Meskipun demikian ia ingin memadukan kecantikan dengan keunikan itu. Ia menemukan kecantikan dalam perbedaan atau kesenjangan, bukan kecantikan yang ideal, yang proporsional atau simetris.”

Pameran di Museum Metropolitan itu termasuk beberapa potong dari koleksi akhir McQueen yang belum selesai. Ia bunuh diri pada bulan Februari 2010, beberapa hari setelah ibunya meninggal dunia.

Ia berusia 40 tahun. Mantan asistennya, Sarah Burton, kini mengelola rumah fesyen di bawah nama Alexander McQueen.

Pameran hasil karya McQueen di Museum Metropolitan di New York itu diselenggarakan sampai tanggal 7 Agustus.

XS
SM
MD
LG