Tautan-tautan Akses

Kapten Kapal Migran: 1 Kapal dari Australia Kehabisan Bahan Bakar

  • Associated Press

Migran Sri Lanka dengan tujuan Australia di kapal mereka yang berlabuh di Cilegon, Banten, setelah dicegat oleh kapal angkatan laut Indonesia (foto: dok)

Migran Sri Lanka dengan tujuan Australia di kapal mereka yang berlabuh di Cilegon, Banten, setelah dicegat oleh kapal angkatan laut Indonesia (foto: dok)

Kapten kapal penyelundup manusia yang mengatakan ia dibayar oleh pihak berwenang Australia untuk mengembalikan para penumpangnya ke Indonesia, menggambarkan perjalanan mengerikan yang ditempuh kapal dalam perjalan kembali ke perairan nusantara.

Kapten dari Indonesia, Johanes Humiang, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kapalnya disita oleh angkatan laut Australia. Setelah diinterogasi, ujarnya, ia ditawarkan uang untuk membawa kembali awak dan 65 migran dengan dua kapal berukuran lebih kecil, tanpa dilengkapi bahan bakar dan bekal makanan yang cukup.

Tuduhan pembayaran bagi penyelundup manusia ini telah menyebabkan ketegangan antara Indonesia dan Australia, yang memiliki kebijakan untuk memerintahkan migran yang tiba dengan kapal untuk berbalik arah. Banyak migran yang melarikan diri dari kemiskinan ataupun penindasan di negara asal mereka menggunakan Indonesia sebagai titik transit dalam perjalanan yang berbahaya, seringkali dengan kapal yang tidak layak berlayar, ke Australia.

Humiang, yang ditahan di kepolisian Rote di NTT, menceritakan sebuah "keadaan darurat" di lautan setelah salah satu kapal yang disediakan oleh Australia tersebut kehabisan bahan bakar, menyebabkan kepanikan di antara penumpang, yang sebagian besar adalah migran dari Sri Lanka. Perjalanan dilanjutkan setelah awak memindahkan para penumpang ke kapal kedua.

"Bahan bakarnya tidak cukup," katanya dalam wawancara Rabu. "Kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Indonesia dengan satu kapal dan akhirnya terdampar."

"Para migran mulai berkelahi," kata Humiang. "Situasi ini berubah drastis dan menakutkan. Saya kira mereka akan membunuh satu sama lain."

Perdana Menteri Australia Tony Abbot telah mengelak menjawab berbagai pertanyaan mengenai insiden ini, tapi mengatakan bahwa pihak berwenang Australia "sangat kreatif" dalam merespon penyelundupan manusia.

Laporan awal dari polisi mengatakan kapten dan lima awak kapal menerima pembayaran sebesar $30.000 (sekitar Rp 400 juta). Steven Ivan Worotijan, seorang awak kapal yang juga diwawancara Rabu, mengatakan jumlah totalnya $31,000. Kapten menerima $6.000 dari seorang perwira angkatan laut Australia yang mengidentifikasi dirinya dengan nama Agus dan masing-masing awak menerima $5.000.

Humiang mengatakan uang yang dibayarkan kepadanya dan para awak jumlahnya dua kali lipat dibandingkan jumlah yang akan diterima bila kapal mereka tidak dicegat.

Kapal migran ini berangkat dari sebuah desa di kecamatan Cisarua di Jawa Barat dan dicegat oleh kapal patroli angkatan laut Australia setelah melaut selama 20 hari, menurut Humiang. Polisi mengatakan kapal dicegat Australia pada tanggal 20 Mei, berdasarkan keterangan dari para awak.

Penanganan Australia terhadap kapal-kapal migran telah terbukti berhasil mengurangi jumlah migran yang mencoba mencapai daratan Australia dan menjadi sebuah kebijakan populer dari partai konservatif yang berkuasa. Media Australia mengutip sebuah dokumen pemerintah yang menyebut kebijakan membayar penyelundup manusia untuk membawa kembali para migran sudah ada sejak empat tahun lalu.

"Selama interogasi, pihak berwenang Australia menawarkan kami uang," kata Humiang. "Kami sangat kaget melihat tumpukan dolar Amerika di meja di depan mata kami. Mereka meminta kami membawa kembali para migran dan uangnya akan jadi milik kami."

Dua orang migran yang diwawancara MetroTV mengatakan mereka menyaksikan uang tersebut diserahkan kepada para awak kapal.

XS
SM
MD
LG