Tautan-tautan Akses

Kapolri: Jatuhnya Helikopter di Poso Bukan karena Serangan Teroris

  • Fathiyah Wardah

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta (VOA/Fathiyah).

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta (VOA/Fathiyah).

Kapolri Jendral Badrodin Haiti memastikan jatuhnya pesawat TNI Angkatan Darat di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah bukan karena serangan teroris tetapi karena faktor cuaca yang buruk.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (21/3) memastikan jatuh dan terbakarnya helikopeter TNI Angkatan Darat Jenis Bell 412 di Dusun Pattiro Bajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, Minggu sore (20/3) bukan karena serangan teroris.

Menurut Badrodin lokasi jatuhnya helikopter di desa Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, tergolong bukan wilayah rawan aksi terorisme tetapi pemukiman yang jaraknya tidak jauh dari bandara.

Untuk sementara, kata Badrodin, faktor cuaca buruk ditengarai menjadi penyebab jatuhnya helikopter. Meski demikian, tim gabungan TNI dan Polri masih terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab jatuhnya helikopter milik TNI Angkatan Darat tersebut.

"Memang cuaca kemarin cukup buruk. Kalau serangan dipastikan tidak ada, karena itu bukan pada daerah-daerah yang rawan, itu permukiman, dan mendekati bandara," jelas Badrodin.

Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto mengatakan lembaganya telah memantau adanya petir, hujan lebat dan awan cumulonimbus saat terjadi terjatuhnya helikopter.

"Pada saat helikopter itu melintas di wilayah tersebut, dari pantauan kami di BMKG menginformasikan bahwa kondisi tersebut ada awan-awan komulonimbus dan disitu potensinya ada hujan lebat, angin kencang, angin putting beliung , terjadinya petir dan hujan es di awan-awan cumulonimbus tersebut," ujar Kukuh.

Jenazah para korban kecelakaan helikopter TNI-AD di Poso, diangkut dengan pesawat dari Palu, Sulawesi Tengah, untuk diterbangkan ke Jakarta, Senin (21/3).

Jenazah para korban kecelakaan helikopter TNI-AD di Poso, diangkut dengan pesawat dari Palu, Sulawesi Tengah, untuk diterbangkan ke Jakarta, Senin (21/3).

Helikopter TNI AD Jenis Bell 412 yang membawa rombongan Komandan Korem 132 Tadulako, jatuh dan terbakar di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso , Sulawesi Tengah Minggu sore. Tiga belas penumpang dan awak tewas dalam peristiwa tersebut. Dikabarkan helikopter itu merupakan bagian dari operasi Tinombala 2016 yang dilaksanakan untuk memburu kelompok teroris pimpinan Santoso.

Saat ini, kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, jenazah ke-13 korban sedang dibawa ke Jakarta untuk proses identifikasi lebih lanjut dan kemudian akan dimakamkan di TMP Kalibata – Jakarta.

Kecelakaan helikopter atau pesawat milik TNI ini bukan yang pertama. Tanggal 10 Februari lalu pesawat tempur milik TNI AU jenis Super Tucano jatuh di kawasan permukiman padat penduduk di Jalan LA Sucipto, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Empat orang tewas dalam musibah itu. Sebelumnya pada Desember 2015, pesawat tempur milik TNI AU jenis T-50 Golden Eagle jatuh saat melakukan atraksi Gebyar Jogja Airshow.

Ketua Komisi Keamanan dan Luar Negeri DPR Mahfud Sidiq mengatakan anggaran perawatan dan pemeliharaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI memang masih sangat minim. Bahkan jika pada tahun 2015 pemerintah menganggarkan anggaran 102 triliun rupiah untuk pertahanan, pada tahun 2016 malah turun menjadi 99 triliun rupiah. Dari total anggaran TNI tersebut, 30 persennya diantaranya digunakan untuk perawatan dan pemeliharaan alutsista.

"Karena kendala anggaran kita baru bisa membeli peralatan yang modern tetapi belum bisa mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan dan perawatan. Memang ada dugaan minimnya anggaran pemeliharaan dan perawatan inilah yang menyebabkan kasus-kasus kecelakaan yang ada pada alutsista," papar Mahfud.

Helikopter jenis Bell 412 EP dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia yang mendapat lisensi dari produsen helikopter ternama asal Amerika Serikat Bell Helicopter Textron Inc. Pesawat jenis ini memiliki teknologi autopilot. TNI Angkatan Darat memiliki 14 unit helikopter Bell. [fw/em]

XS
SM
MD
LG