Tautan-tautan Akses

Kapten Penerbang Dwi Cahyadi Dimakamkan di Yogyakarta

  • Nurhadi Sucahyo

Proses pemakaman jenazah Kapten Penerbang Dwi Cahyadi di Taman Makan Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, 21 Desember 2015 (Foto: VOA/Nurhadi)

Proses pemakaman jenazah Kapten Penerbang Dwi Cahyadi di Taman Makan Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, 21 Desember 2015 (Foto: VOA/Nurhadi)

Kapten Penerbang Dwi Cahyadi, salah satu korban kecelakaan pesawat T 50i dalam pertunjukan udara di Yogyakarta, dimakamkan hari Senin signa (21/12) di Yogyakarta.

Proses pemakaman Kapten Penerbang Dwi Cahyadi, di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, Senin (21/12) pukul 11.30 ditandai dengan dikumandangkannya lagu "The Last Post". Suasana haru menyelimuti seluruh pelayat yang hadir. Apalagi, Kapten Penerbang Dwi Cahyadi yang masih berusia 31 tahun, gugur dalam tugas dalam kegiatan pertunjukan udara, untuk memperingati 70 tahun Sekolah Penerbangan TNI AU hari Minggu signa (20/12) di Yogyakarta.

Keluarga dan rekan-rekan almarhum khidmat mengikuti prosesi pemakaman di tengah cuaca terik. Istri almarhum hadir dalam prosesi ini didampingi seluruh keluarga besar.

Bonirah, ibu kandung almarhum Kapten Penerbang Dwi Cahyadi nampak tegar kehilangan salah satu putranya. Sehari sebelum insiden terjadi, Kapten Penerbang Dwi Cahyadi sempat meminta seluruh anggota keluarga besarnya untuk berfoto bersama. Bonirah juga mengingat, sesaat setelah terbang di kesempatan pertama, Dwi Cahyadi dengan sabar melayani permintaan foto puluhan penonton secara bergantian.

“Hari Sabtu itu semua keluarganya difoto sama dia, diajak semua foto berangkulan, nggak tahunya sampai segini saja hidup dia. Dia baik-baik saja, ketawa-ketawa bersuka ria, turun dari pesawat yang pertama itu banyak orang minta foto bareng bergantian, tidak tahunya ketika terbang yang kedua, anak saya mengalami musibah seperti ini.”

Di mata ayahnya, Suciono, Dwi Cahyadi adalah anak penurut dan pendiam. Dia mengaku ikhlas kehilangan putranya yang harus menghentikan pengabdiannya di TNI AU di usia muda.

“Dia anak yang sholeh sejak kecil, nurut sama orang tua, jadi kami juga turuti apa yang dia kehendaki. Dia anak yang nggak nakal dan nggak neko-neko. Kemarin hari Sabtu itu saya diajak naik pesawatnya, di depan berdua sama dia,” kenang Suciono.

Upacara pemakaman Kapten Penerbang Dwi Cahyadi dipimpin oleh Komandan Pangkalan Udara Adi Sucipto Yogyakarta, Marsekal Pertama Imran Baidirus. Pemakaman dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan, karena almarhum gugur ketika menjalankan tugas. Di mata Imran Baidirus, almarhum adalah salah satu teman, yunior dan rekan kerja yang mudah diajak bekerja sama.

“Kita mengenal almarhum adalah salah putra terbaik TNI Angkatan Udara, karena selama bertugas almarhum memmpunya dedikasi yang tinggi dan tidak mengenal lelah dala melaksanakan kewajiban yangmenajdi taggung jawabnya kepada bangsa dan negara melau TNI AU. Dengan berpulangnya saudara, teman kita, almarhum Kapten Penerbang Dwi Cahyadi, kita semua merasa kehilagan," kata Imran Baidirus.

Kapten Penerbang Dwi Cahyadi adalah lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 2005. Dia meninggalkan istri, Dwi Wanito Ambarsari dan dua anak berusia 5 serta 2,5 tahun.

Perwira kelahiran 6 Juli 1984 itu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang gemar menggambar pesawat ketika kecil. Sementara itu di Madiun, keluarga besar TNI AU juga mengadakan upacara pemakaman secara militer untuk Letnan Kolonel Penerbang Marda Sarjono di Taman Makam Pahlawan setempat. [ns/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG