Tautan-tautan Akses

Kapal Persahabatan Jepang-ASEAN ‘Fujimaru’ Singgah di Jakarta

  • Alina Mahamel

Para pengunjung, sebagian besar pelajar, diperbolehkan melihat-lihat isi kapal Fujimaru yang sedang singgah di Pelabuhan Tanjung Priok (25/11).

Para pengunjung, sebagian besar pelajar, diperbolehkan melihat-lihat isi kapal Fujimaru yang sedang singgah di Pelabuhan Tanjung Priok (25/11).

Jakarta menjadi kota keempat yang disinggahi Kapal Fujimaru yang membawa 319 pemuda. Kapal ini berlayar selama 54 hari di 7 kota di Asia Tenggara dan Jepang dengan membawa misi perdamaian dan persahabatan.

Kapten Kapal, Seiji Kuba turun dari Kapal Fujimaru, menandai kunjungan Kapal Jepang-ASEAN, Jumat sore (25/11), di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Suasana penuh keceriaan diwarnai yel-yel penuh semangat dari 11 negara peserta Program Pertukaran Pemuda Jepang-ASEAN, semakin memeriahkan acara pelepasan kapal yang akan segera melanjutkan pelayarannya ini. Kapal Fujimaru berangkat dari Yokohama dan telah mengunjungi Filipina dan Brunei Darussalam sebelum tiba di Jakarta.

Dari Jakarta, kapal bertingkat 8, sekelas hotel bintang 4, berbobot 70 ribu ton dan panjang 176 meter ini, dijadwalkan akan menuju Port Klang, Malaysia, Ho Chi Minh, Vietnam dan akan mengakhiri pelayarannya di Tokyo, pertengahan Desember mendatang.

Presiden Alumni Program Pertukaran Pemuda Kapal Jepang-ASEAN, Rino Wicaksono kepada VOA menjelaskan tujuan dari program ini.

“Kalau kita lihat negara-negara ASEAN itu sangat heterogen, ada negara komunis, sosialis, republik, kerajaan dan sebagainya. Kita mulai dengan memahami dan menghormati itu dan mempunyai konsep untuk maju bersama. Hubungan antara Jepang dan ASEAN itu merupakan sebuah keniscayaan, sebuah sejarah yang tidak bisa diingkari dan ini akan menjadi satu komunitas budaya, komunitas sosial dan komunitas politik,” ujar Rino.

Program ini telah berjalan selama 38 tahun. Selama kurun waktu itu telah banyak perubahan yang telah terjadi, dan ini diakui oleh Ketua Kontingen Indonesia, Yulita Meinha.

“Programnya semakin bagus, semakin terprogram, waktunya semakin sedikit sementara negaranya semakin banyak karena negara ASEAN sekarang sudah 10 ditambah Jepang sebagai negara sponsor. Prinsipnya adalah disini menjalin persahabatan dan pengertian satu sama lain antara seluruh pemuda ASEAN dan Jepang,” demikian penilaian Yulita Meinha.

Di dalam kapal, selama berlayar mengarungi lautan, peserta berinteraksi dengan melakukan berbagai kegiatan, mulai dari diskusi topik-topik aktual, pendidikan dan pelatihan bagi pemuda, hingga atraksi seni budaya dari masing-masing negara.

Nurul Asmad, adalah peserta program yang harus menunda pendidikan masternya selama satu semester di Malaysia, demi bisa mengikuti program ini. Ia tidak menyesali keputusannya menunda kuliah karena menurutnya, kesempatan ini telah memperkaya pemahamannya tentang seni dan budaya negara-negara di Asia Tenggara yang beragam.

Menurut Nurul, banyak pengalaman yang bisa dipetik, seperti bahwa orang Jepang memandang pengelolaan waktu (time management) sebagai suatu hal penting. Sementara dia menilai orang-orang Filipina dan Indonesia sebagai peramah, walaupun hierarkinya mungkin berbeda.

XS
SM
MD
LG