Tautan-tautan Akses

Jaksa Italia: Kapal Migran Tak Sengaja Tabrak Kapal Penyelamat


Dua penumpang yang selamat dari kapal migran yang terbalik di lepas pantai Libya menunggu di pelabuhan Catania, Italia, Senin (20/4).

Dua penumpang yang selamat dari kapal migran yang terbalik di lepas pantai Libya menunggu di pelabuhan Catania, Italia, Senin (20/4).

Kapten kapal migran itu berusaha mengarahkan kapalnya yang padat penumpang ke sebuah kapal kontainer Portugis sebelum terbalik di lepas pantai Libya, pekan lalu.

Tim jaksa Italia mengatakan Selasa (21/4), kapten Tunisia yang kapal migrannya terbalik di Laut Tengah tanpa sengaja menabrakkan kapalnya ke sebuah kapal dagang yang datang untuk menyelamatkannya.

Tim jaksa kota Catania itu mengatakan kapten itu mengarahkan kapal padat penumpang itu ke sebuah kapal kontainer Portugis sebelum terbalik di lepas pantai Libya, pekan lalu, menenggelamkan hingga sebanyak 900 migran yang berusaha menghindari kemiskinan dan perang di Timur Tengah dan Afrika dengan menempuh perjalanan berbahaya ke Eropa.

Tim jaksa tersebut membebaskan kapal dagang itu dari tanggung jawab atas tragedi itu. Hanya 28 orang berhasil diselamatkan dari bencana migran -- yang menurut pihak berwenang -- terburuk di Laut Tengah itu.

Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) mengatakan, berdasarkan wawancara dengan para korban yang selamat, mereka meyakini ada sekitar 350 warga Eritrea di kapal itu, dan orang-orang dari Suriah, Somalia, Sierra Leone, Mali, Senegal, Gambia, Pantai Gading dan Ethiopia.

Tim Jaksa Italia itu mengatakan, kapten kapal migran yang berusia 27 tahun, ditahan atas kecurigaan melakukan pembunuhan, mengakibatkan kapal tenggelam, dan membantu imigrasi ilegal. Mualim Satu kapal itu, Mahmud Bikhit, warga Suriah berusia 26 tahun, juga ditangkap atas kecurigaan membantu imigrasi ilegal.

Para jaksa itu akan meminta seorang hakim Italia untuk mengotorisasi penahanan yang diperpanjang terhadap kedua tersangka, sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut atas bencana itu dan kemungkinan munculnya tuduhan resmi terhadap mereka.

Ketua jaksa Catania, Giovann Salvi, mengatakan, hanya sedikit orang yang selamat dalam bencana itu karena kebanyakan migran terkunci di dek bawah kapal dengan tiga dek itu.

PM Australia Tony Abbott, yang pemerintahannya baru-baru ini menyetujui peraturan baru yang ketat berkenaan migran pencari suaka, menyampaikan kepada wartawan di Canberra, hari Selasa, bahwa Eropa harus mengambil tindakan serupa untuk mencegah kematian di laut.

Peraturan baru Australia menugaskan militer memutar haluan kapal-kapal pencari suaka sebelum mencapai pantai Australia, yakni dengan mengirim mereka kembali ke negara asal mereka, atau dengan menampung mereka di kamp-kamp di pulau Nauru di Samudera Pasifik dan Papua Nugini. Menurut Abbott, satu-satunya cara menghentikan kematian adalah dengan menghambat kapal-kapal itu.

XS
SM
MD
LG