Tautan-tautan Akses

Serangan atas Sekolah Misionaris di India Diduga Kampanye Anti Kristen


Warga Muslim India melakukan aksi protes sebagai solidaritas, menuntut hukuman berat bagi pelaku serangan dan perkosaan atas sekolah misionaris di Ranaghat, India (VOA/Azizur Rahman)

Warga Muslim India melakukan aksi protes sebagai solidaritas, menuntut hukuman berat bagi pelaku serangan dan perkosaan atas sekolah misionaris di Ranaghat, India (VOA/Azizur Rahman)

Empat hari setelah serangan terhadap sebuah sekolah misionaris di India timur hari Sabtu (14/3) dini hari, pihak berwenang kini yakin motif utama serangan tersebut bukanlah perampokan.

Sejumlah organisasi Kristen di sana mengatakan serangan terhadap Convent of Jesus and Mary School itu, yang terletak 80 kilometer sebelah timurlaut Kolkata, adalah bagian dari kampanye anti-Kristen yang telah berlangsung di seluruh India.

Sekelompok laki-laki, paling tidak tujuh orang, menyelinap masuk sekolah itu Sabtu (14/3) dini hari, mengikat tangan satpamnya dan masuk ke kamar-kamar di mana tiga biarawati, termasuk kepala biarawati yang berusia 71 tahun, sedang tidur.

Setelah gang itu kabur, kepala biarawati itu ditemukan tergeletak berdarah karena tampaknya diperkosa. Gang itu juga merampok uang tunai dan sejumlah barang berharga dari sekolah itu serta merusak benda-benda suci di kapel sekolah itu.

Banyak media melaporkan bahwa gang itu merampok dan memperkosa biarawati itu karena ia berusaha melawan. Faustine Brank, anggota komite pengelola sekolah itu, berpendapat berbeda.

“Ketika dimintai uang oleh orang-orang itu, kepala biarawati dengan tenang menuruti perintah dan menunjukkan tempat penyimpanan uang milik sekolah. Geng itu mengambil uang tunai (senilai sekitar 2.160 dolar). Lalu mereka masuk ke kapel dan merusak sejumlah benda suci di dalamnya. Kepala biarawati yang berusia 71 tahun itu tidak melawan sama sekali. Kami tidak mengerti mengapa mereka melakukan serangan mengerikan dan keji seperti itu terhadap seorang biarawati lanjut usia,” paparnya.

Bangiya Christiya Pariseba, kelompok organisasi-organisasi Kristen di Kolkata, merilis pernyataan yang menduga serangan itu bermotif keagamaan dan mengisyaratkan para pelakunya adalah kelompok Hindu garis keras.

Kepala organisasi itu Herod Mullick mengatakan geng itu memperkosa biarawati yang paling senior karena ingin menimbulkan rasa sakit dan rasa malu sebesar-besarnya terhadap umat Kristen.

“Mengapa mereka masuk ke kapel dan merusak benda-benda suci meski tahu tidak ada barang berharga disana? Mengapa mereka memperkosa kepala biarawati yang berusia 71 tahun tetapi membiarkan dua biarawati muda?,” ujar Mullick.

India memiliki sejarah panjang membiarkan aksi kekerasan seksual. Tetapi perkosaan beramai-ramai terhadap seorang perempuan berusia 23 tahun bulan Desember 2012 lalu di New Delhi menyulut kemarahan di seluruh negara itu. Pemerintah federal lalu mengesahkan UU yang melipatgandakan vonis penjara bagi pemerkosa menjadi 20 tahun.

(Azizur Rahman/VOA).

XS
SM
MD
LG