Tautan-tautan Akses

Kampanye 3 Juta Popcorn untuk Bantu Atasi Perdagangan Anak


Faye Simanjuntak, 14 tahun, prihatin dengan isu prostitusi dan perdagangan anak di Indonesia yang kian marak. (foto: courtesy).

Faye Simanjuntak, 14 tahun, prihatin dengan isu prostitusi dan perdagangan anak di Indonesia yang kian marak. (foto: courtesy).

Peringatan Hari Anak Indonesia 23 Juli diwarnai dengan beragam acara, termasuk kampanye anti-perdagangan anak “Sejuta Senyum Untuk Indonesia”, lewat penjualan tiga juta boks popcorn yang digagas “Rumah Faye” bersama jaringan bioskop Studio 21.

“Rumah Faye” adalah sebuah organisasi yang didirikan tahun 2013 oleh Faye Simanjuntak, seorang siswi yang kini berusia 14 tahun, yang prihatin dengan isu prostitusi dan perdagangan anak di Indonesia yang kian marak.

“Sejak kecil saya didorong keluarga untuk peduli pada masyarakat sekitar dan isu yang berkembang, serta kondisi yang membuat mereka tidak memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Kemudian saat kelas V saya mendapat informasi tentang prostitusi dan perdagangan anak. Saya baru tahu bahwa ada begitu banyak anak yang diperjualbelikan, dan 37,5% di antaranya bahkan lebih muda dari 14 tahun. Saya sedih sekali tapi tidak tahu bagaimana cara membantu mereka. Saya merasa bahwa sekarang saya dalam usia 14 tahun, juga bertanggungjawab membantu sesama anak-anak lainnya. Apalagi Indonesia adalah negara yang memiliki kasus prostitusi dan perdagangan anak terbesar ketiga di Asia Tenggara”, tutur Faye ketika diwawancarai VOA baru-baru ini.

Rumah Faye Galakkan Kampanye 'Sejuta Senyum Untuk Indonesia'

Berbekal pengetahuan itu Faye mendorong ibunya untuk membantunya membentuk semacam organisasi yang bisa melakukan kampanye untuk mencegah terus terjadinya prostitusi dan perdagangan anak, sekaligus membebaskan dan memulihkan korban.

“Program utama kami adalah 3P : pencegahan, pembebasan dan pemulihan. Untuk mencegah terus terjadinya perdagangan dan prostitusi anak, saya pergi ke daerah-daerah yang masih rentan dengan kejahatan ini dan melakukan kampanye. Baru saja kami menggelar kampanye terbesar “tiga juta boks popcorn di seluruh Indonesia” yang bekerjasama dengan Studio 21. Jadi jika penonton film beli popcorn, maka ada sebagian dari uang pembelian itu yang disumbangkan untuk kampanye anti-prostitusi dan perdagangan anak”, ujar Faye.

Faye memilih popcorn sebagai salah satu cara kampanye karena menurutnya popcorn identik dengan remaja. “Karena khan anak muda seumur saya biasanya kalau gak ada kerjaan sukanya nonton film dan kalau nonton film suka beli popcorn. Saya sendiri kalau nonton film pasti akan beli popcorn. Jadi jika ingin mengajak anak muda peduli dengan isu prostitusi dan perdagangan anak, saya pikir sasaran yang tepat adalah di tempat dimana mereka sering berkumpul, antara lain bioskop”.

Saat ini “Rumah Faye” memang melakukan kampanye anti-perdagangan anak dengan kampanye di sekolah-sekolah, advokasi dan seminar/diskusi tentang isu ini. Kampanye di sekolah tidak saja diisi dengan diskusi kesadaran agar tidak terlibat seks bebas, tetapi juga mengajak remaja menjadi agen perubahan yang bisa mencegah anak/remaja terjerumus dalam perbudakan modern ini.

KPAI: Setiap Tahun 150 Ribu Anak di Indonesia Diperdagangkan

Menurut Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Indonesia KPAI Dr. Seto Mulyadi sebagaimana dikutip situs “Rumah Faye”, Indonesia kini menjadi negara ketiga terbesar yang menjadi “pemasok” untuk prostitusi dan perdagangan anak. “Setiap tahun ada 150 ribu anak di Indonesia yang diperdagangkan untuk tujuan seksual. Mereka dilacurkan, dijadikan obyek pornografi, dieksploitasi secara seksual di daerah pariwisata, atau dinikahkan secara dini oleh orang tuanya”, ujar Seto Mulyadi.

Ditambahkannya, lima tahun lalu jumlah anak di bawah usia 18 tahun yang mengalami eksploitasi seksual mencapai 30%, tetapi saat ini jumlahnya sudah berlipat ganda. Kemiskinan, putus sekolah, lemahnya penegakan hukum dan kini kemajuan pesat informasi dan teknologi ditengarai sebagai faktor-faktor yang membuat prostitusi dan perdaganan anak kian marak.

Meski mendapat banyak dukungan dari remaja seusianya, Faye menyadari bahwa isu yang diangkatnya merupakan hal yang kompleks. Tetapi Faye yakin dengan mulai membicarakan isu ini secara terbuka, makin banyak orang yang menyadari pentingnya isu dan melakukan lebih banyak cara untuk mengatasinya.

“Anak-anak – apalagi remaja – punya suara terbesar bagi perubahan, apalagi jumlah kita banyak dan kita kreatif. Kita harus menyadari bahwa kita harus mulai bertanggjawab terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita, dan bahwa kita bisa melakukan perubahan sekecil apapun. Jika teman-teman ingin membantu, pertama mari kita membuka kesadaran bahwa perdagangan anak adalah masalah besar. Walaupun isu ini mungkin tidak enak dan banyak orang tidak mau membicarakannya secara terbuka, kita harus berani bicara. Bahwa masalah prostitusi dan perdagangan anak ini adalah masalah beneran. Lihat informasi lengkapnya di situs kami dan juga di sosial media seperti Facebook.”

Sejumlah Daerah di Indonesia Pemasok Prostitusi dan Perdagangan Anak

Menurut data “Rumah Faye” mengutip kajian cepat ILO-IPEC tahun 2003, beberapa daerah yang menjadi “pemasok” anak untuk kejahatan prostitusi adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Sementara daerah-daerah penerimanya adalah Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Medan, Riau, Batam, Ambon, Manado, Makassar dan Jayapura. Beberapa diantaranya bahkan diperdagangkan ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Jepang.

Kampanye “Sejuta Senyum Untuk Indonesia” di Jakarta 30 Juli lalu yang dihadiri begitu banyak remaja seusia Faye memberi harapan akan upaya serius mengatasi prostitusi dan perdagangan anak. “I certainly hope that our voice will be heard”, ujar Faye menutup wawancara kami. [em]

XS
SM
MD
LG