Tautan-tautan Akses

Kamp Pelatihan Lahirkan Generasi Baru Pengembang Komputer


Para calon pengembang web di masa depan belajar bersama di Dev Bootcamp di San Francisco. (foto: DBC)

Para calon pengembang web di masa depan belajar bersama di Dev Bootcamp di San Francisco. (foto: DBC)

Jika ingin belajar bahasa baru, ini saat yang tepat untuk belajar Java atau Python.

Berbeda dengan bahasa Jawa, Inggris atau Mandarin, Java dan Python adalah dua bahasa kode komputer terpopuler di balik program-program yang menghadirkan layanan informasi yang kita baca di Internet, email, atau beragam aplikasi hiburan di ponsel.

Belajar bahasa kode bisa membantu memahami seluk beluk piranti lunak ponsel dan komputer. Belajar bahasa kode juga seru. Itu sebabnya, fasilitas pelatihan bahasa kode komputer kini bertebaran di Amerika untuk melatih generasi baru ahli bahasa teknologi.

Ingin mencari pengalaman baru, Galen Cook bergabung dengan Dev Bootcamp (DBC). Kini, warga negara bagian Hawaii itu sudah bisa pamer pengetahuan tentang bahasa-bahasa kode yang dikuasainya.

"Saya sudah belajar Ruby, saya sudah belajar JavaScript, J-query dan Ajax," kata Cook. "Saya bisa membuat program-program untuk terminal komputer yang mungkin tidak pernah dibuka oleh 90 persen pengguna komputer. Program-program inilah yang menjalankan komputer."

Teks dan ilustrasi dari buku seri "Harry Potter and the Chamber of Secrets" tampak di layar iPad dalam pameran di New York.

Teks dan ilustrasi dari buku seri "Harry Potter and the Chamber of Secrets" tampak di layar iPad dalam pameran di New York.

Membangun Generasi Pengembang

DBC menyebut diri sebagai sekolah bahasa kode komputer intensif jangka pendek pertama di Amerika.

Dibentuk di San Francisco tahun 2012 oleh Shereef Bishay, DBC berawal setelah Bishay mengajar temannya menyusun kode program dan menyadari ia bisa berbagi pengetahuan dengan banyak orang. Iklan yang dipasang Bishay di Internet segera disambut 200 peserta dan lahirlah program pelatihan pengembangan dunia maya itu.

DBC berambisi melatih pemula dan menjadikan mereka siap bekerja hanya dalam 19 minggu. Setelah sembilan minggu belajar secara online, para peserta lalu berkumpul di fasilitas DBC di Chicago, New York atau San Franscisco untuk pelatihan intensif selama sembilan minggu lagi. Seusai itu, mereka mendapat latihan persiapan mencari kerja selama satu minggu.

Sekitar 450 siswa dilatih DBC per tahun, sepertiganya adalah perempuan dan hampir separuhnya keturunan etnis minoritas. Khusus perempuan dan keturunan minoritas, DBC juga menawarkan menanggung sebagian dari biaya 13.500 dollar yang jauh lebih mahal dibandingkan biaya setahun di sebuah universitas negeri.

Seorang laki-laki bermain game komputer di sebuah warung Internet di Beijing, China.

Seorang laki-laki bermain game komputer di sebuah warung Internet di Beijing, China.

Belajar Praktik Langsung

Di San Francisco, kampus DBC dibagi menjadi ruang-ruang kelas terbuka dan dipenuhi komputer. Juga ada ruang yoga, ruang istirahat dan dapur.

Di sana, muncul banyak ide permainan komputer termasuk Hacky Sack.

Presiden DBC John Stowe mengatakan, "Ini adalah tempat belajar dan kami tahu semua orang akan membuat kesalahan ... Jadi kami meminta mereka agar tidak patah semangat kalau melakukan kesalahan atau menyembunyikan kesalahan. Kami meminta mereka agar sabar terhadap diri sendiri dan sabar terhadap orang lain yang juga mungkin membuat kesalahan."

Lanjut Stowe, sekitar 90 persen lulusan DBC mendapat pekerjaan sebagai pengembang web junior yang gajinya lumayan tinggi di era teknologi sekarang.

"Kami menawarkan lulusan kami ke banyak perusahaan, yang biasanya mencari pegawai dari luar negeri untuk dibawa kesini dengan visa kerja atau biasanya menempatkan tim di luar negeri. Akan jauh lebih baik jika mereka mempekerjakan lulusan kami, dan itulah kesempatan besar kami," kata Stowe.

Stowe berharap Dev Bootcamp akan terus memperluas kurikulumnya agar tidak tertinggal dalam era teknologi yang berubah sangat cepat. [th/ii]

XS
SM
MD
LG