Tautan-tautan Akses

Kamboja: Peraturan 'Tidak Boleh Menyontek Selama Ujian' Berhasil


Petugas keamanan sekolah memeriksa siswa agar tidak menyembunyikan contekan di pintu sekolah di Phnom Penh.

Petugas keamanan sekolah memeriksa siswa agar tidak menyembunyikan contekan di pintu sekolah di Phnom Penh.

Menteri Pendidikan Kamboja mengatakan upaya untuk mencegah siswa menyontek selama ujian tahun ini berhasil dengan baik, dan ia yakin hasil ujian akan lebih baik daripada siswa lulusan 2014. Banyak siswa yang juga berharap demikian, karena 60 persen siswa tahun lalu gagal lulus ujian setelah pemerintah memperkenalkan kebijakan "tidak boleh menyontek."

Sebanyak 88.000 siswa Kamboja menjalani ujian minggu ini, dan banyak di antara mereka cemas bahwa peraturan pemerintah "tidak boleh menyontek" akan mengurangi kesempatan mereka untuk bisa diterima di universitas.

Beberapa berdoa untuk kesuksesan mereka di klenteng sepanjang akhir pekan, dan satu siswa yang sedih mengatakan kepada surat kabar Phnom Penh Post ia berharap penjaga ujian akan mengijinkan siswa menyontek "kecil-kecilan seperti melihat jawaban siswa yang lain."

Harapannya tandas: peraturan diterapkan dengan ketat.

Beberapa siswa ketahuan menyontek

Beberapa siswa tetap mencoba menyontek: beberapa ketahuan menyontek di kertas catatan, dan seorang siswa kelas 11 yang mengatakan ia tidak sepandai saudaranya, ditangkap.

Secara keseluruhan, tampaknya, menyontek, yang telah menjadi kebiasaan selama ujian, telah berhasil dihapuskan.

Menteri Pendidikan Hang Chuon Naron adalah tokoh yang berada di balik kebijakan tersebut, sebuah langkah penting bagi reformasi pendidikan dan memastikan sistem sebelumnya, yang menguntungkan penyontek, digantikan dengan budaya prestasi yang menguntungkan mereka yang bekerja keras.

Menteri Naron, yang ditunjuk dua tahun lalu, optimis tingkat kelulusan akan lebih tinggi tahun ini. Sebagian besar karena siswa belajar lebih keras; tapi perubahan lain juga turut membantu, termasuk upaya memperbaiki pelatihan guru.

“Kami sudah melihat perubahan pada sikap siswa, khususnya laporan dari sekolah bahwa siswa belajar lebih keras, dan mereka ikut kelas tambahan pada hari Sabtu dan Minggu yang ditawarkan oleh guru," ujarnya.

Titik awal

Menteri tersebut berharap menghilangkan budaya menyontek saat ujian akan menjadi titik awal untuk memperbaiki ketrampilan yang hilang akibat sistem pendidikan Kamboja, yang telah lama menghasilkan lulusan yang tidak memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh para penyedia pekerjaan.

“Kita masih menghadapi kendala, karena kerja keras satu tahun tidak cukup, beberapa subyek pelajaran butuh setidaknya beberapa tahun, dua atau tiga tahun, untuk menguasainya. Tapi kita akan melihat kemajuan lebih banyak tahun ini dibandingkan tahun lalu, dan saya yakin ini merupakan perubahan mentalitas siswa. Dan ini akan menciptakan kebiasaan baru," ujarnya.

Perubahan lain termasuk menggaji guru lebih tinggi, dan memastikan sekolah mempunyai fasilitas lebih baik dan ditangani dengan baik.

Memperbaiki kekurangan pada sistem pendidikan Kamboja tidak mudah, tapi Menteri Naron mengatakan, mencegah kecurangan dalam ujian adalah hal yang masuk akal, karena tidak hanya menunjukkan kekurangan dalam sistem pendidikan tapi juga memaksa siswa untuk belajar.

“Semua pengeluaran, termasuk pengeluaran untuk buku pelajaran, sumber daya, bahkan gaji guru yang lebih tinggi, sia-sia kalau siswa tidak belajar, tidak ada kesuksesan yang tercapai," ujarnya.

Bagi kelas angkatan 2015, siswa terlihat menanggapi peraturan larangan menyontek dengan serius dan belajar lebih keras. Mereka akan menyadari kerja keras mereka akan membuahkan hasil.

Hasil ujian akan diumumkan pertengahan September.

XS
SM
MD
LG