Tautan-tautan Akses

Kamboja Berharap Raih Oscar Pertama Lewat Film tentang Khmer Merah


Salah satu adegan dalam film "The Missing Picture" yang disutradarai pembuat film asal Kamboja Rithy Panh. (AP/Bohana Center)

Salah satu adegan dalam film "The Missing Picture" yang disutradarai pembuat film asal Kamboja Rithy Panh. (AP/Bohana Center)

Berkisah tentang penyintas kejahatan Khmer Merah, ini adalah film Kamboja pertama yang dinominasikan untuk Academy Award.

Selama dua setengah dekade terakhir, sutradara Rithy Panh dari Kamboja telah membuat film yang menurutnya merupakan tugasnya sebagai penyintas kejahatan Khmer Merah, dan utangnya pada korban tewas.

Film terbarunya, "The Missing Picture," adalah untuk pertama kalinya ia memfokuskan pada kisah kehilangan dan ketahanan yang menyiksa yang dialaminya. Film ini juga merupakan film pertama Kamboja yang dinominasikan untuk Academy Award, dan mungkin menang sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar akhir pekan ini.

Pembuat film berusia 51 tahun itu mengatakan ia membuat film karena "saya harus mencari cara untuk mengatasi kenangan-kenangan saya."

"Ketika Anda bertahan dari sebuah genosida, rasanya seperti terkena radiasi bom nuklir," ujar Panh.

"Rasanya seperti sudah pernah dibunuh, dan Anda kembali hidup dengan kematian di dalam diri Anda."

"The Missing Picture" merupakan film yang puitis dan sangat orisinal, dengan para peran yang dimainkan oleh boneka tanah liat statis. Sebelum mendapat nominasi Oscar, film ini mendapat hadiah bergengsi "Un Certain Regard" dalam kompetisi di Festival Film Cannes tahun lalu, penghargaan untuk film-film yang kreatif atau memprovokasi pikiran.

Nominasi itu sendiri merupakan kemenangan bagi Panh dan Kamboja, tempat industri film baru saja kembali bangkit setelah teror rezim Pol Pot dari 1975 sampai 1979.

"Saya tidak merasa akan pergi ke Los Angeles sendiri. Saya merasa pergi dengan seluruh negeri saya," ujar Panh.

Era Khmer Merah menewaskan lebih dari 1,7 juta orang tewas, sebagian besar karena kelaparan, pengabaian medis, kondisi bekerja seperti perbudakan dan eksekusi. Rezim tersebut menghukum mati seniman, penulis dan pembuat film sebagai bagian dari visi Maois untuk menghancurkan elit terdidik dan mengubah negara itu menjadi utopia pertanian.

Panh berusia 13 tahun ketika tentara Pol Pot masuk ke ibukota Phnom Penh pada 17 April 1975. Tentara mengosongkan kota-kota, menutup sekolah dan rumah sakit serta memaksa seluruh penduduk untuk bekerja di pinggiran kota.

Selama empat tahun periode genosida, Panh menyaksikan orangtuanya, saudara-saudara perempuan serta keponakan-keponakannya meninggal karena sakit dan kelaparan.

Setelah rezim jatuh pada 1979, Panh pergi ke Thailand dan kemudian mendapat suaka di Paris. Sebagian besar filmnya, termasuk "The Missing Picture," adalah produksi gabungan Perancis dan Kamboja. Setelah 10 tahun di luar negeri, ia pun kembali ke negaranya untuk membuat film dengan perspektif unik baik sebagai orang dalam maupun orang luar.

"Rithy Panh memiliki cara khusus untuk melihat mimpi buruk itu. Ia melihat ke belakang dan tetap sangat tenang dan jujur mengenai hal itu. Ia tidak pernah buru-buru menghakimi," ujar pembuat film dan kritikus film asal Thailand, Kong Rithdee.

Rithdee mengatakan dalam "The Missing Picture," "Anda tidak merasa ada kemarahan. Sebagai penonton Anda marah, tapi film itu sendiri tidak menyiratkan kemarahan."

Film tersebut, berdasarkan memoar Panh pada 2012, "The Elimination," menjalin mimpi buruk nasional Kamboja dengan kisah pribadi Panh. Potongan-potongan arsip film digabung dengan klip-klip propaganda Khmer Merah dan narasi orang pertama dalam Bahasa Perancis. (AP)
XS
SM
MD
LG