Tautan-tautan Akses

Kabut Asap Memburuk, Singapura Tutup Semua Sekolah


Seorang pekerja memakai masker di tengah kabut asap yang menyelimuti Singapura (10/9). (AP/Ng Han Guan)
Seorang pekerja memakai masker di tengah kabut asap yang menyelimuti Singapura (10/9). (AP/Ng Han Guan)

Indeks Standar Polutan (PSI), yang mengkur polusi udara di Singapura selama tiga jam sekali ukur, mencapai 341 Jumat pagi, tingkat paling tinggi tahun ini.

Singapura menutup sekolah-sekolah hari Jumat (25/9) dan membagikan masker anti-polusi secara gratis kepada manula dan warga yang rentan di tengah tebalnya kabut asap yang menyelimuti negara pulau itu dengan polusi yang mencapai tingkat paling buruk tahun ini.

Kabut asap yang berwarna kelabu itu mirip dengan awan yang menutupi sinar matahari dan menyebabkan suhu turun dan melenyapkan pemandangan horizon dan bahkan menyusup ke dalam rumah-rumah. Ini masalah tahunan bagi kawasan itu, akibat pembakaran hutan di negara tetangga Indonesia untuk merambah lahan untuk pertanian dan perkebunan.

Usaha berkali-kali untuk menindak perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran tidak membantu. Sementara itu, penduduk di Singapura, Malaysia dan Indonesia menderita akibat asap itu, menghadapi bahaya kesehatan yang gawat, terutama bagi kaum lanjut usia, anak-anak dan orang yang menderita gangguan pernafasan.

Indeks Standar Polutan (PSI), yang mengkur polusi udara di Singapura selama tiga jam sekali ukur, mencapai 341 Jumat pagi, tingkat paling tinggi tahun ini, kemudian turun ke bawah 300, angka yang berbahaya.

Pemerintah Singapura memerintahkan semua sekolah dasar dan sekolah menengah ditutup. Masker gratis dibagi-bagikan di pusat-pusat masyarakat di seluruh pulau itu bagi kelompok yang rawan dari pukul 10 pagi hingga 10 malam.

Relawan juga diperkirakan akan pergi dari rumah-ke-rumah untuk memberi masker bagi orang yang tidak dapat datang ke pusat-pusat masyarakat. [gp]

XS
SM
MD
LG