Tautan-tautan Akses

Jutaan Anak Perempuan Afrika Alami Mutilasi Alat Kelamin Perempuan


Mutilasi Alat Kelamin Perempuan

Mutilasi Alat Kelamin Perempuan

Hari Kamis, 6 Februari, diperingati sebagai Hari Internasional “Tidak Ada Toleransi Bagi Mutilasi Alat Kelamin Perempuan" atau FGM, yang disponsori PBB.

PBB mengatakan jutaan anak perempuan di Afrika menghadapi praktek ini. Di Liberia tidak ada aturan menentang mutilasi alat kelamin perempuan dan praktek ini merupakan hal yang umum terjadi.

Pada saat seperti ini setiap tahun perempuan-perempuan desa di Margibi County mengajak anak-anak perempuan ke hutan untuk memperkenalkan mereka pada komunitas rahasia perempuan yang dikenal sebagai sande. Sebagai bagian dari inisiasi ini, mereka memotong klitoris anak-anak perempuan ini.

Beberapa perempuan bicara pada VOA tentang praktek ini dengan syarat VOA tidak menggunakan nama mereka karena di Liberia bicara tentang praktek FGM merupakan hal yang tabu.

“Kami berada lebih dari enam bulan di hutan dan mengajari anak-anak perempuan ini tentang praktek-praktek tradisional lain. Terus terang beberapa anak perempuan meninggal dalam proses ini. Beberapa lainnya jatuh sakit. Tetapi kami menggunakan jamu-jamuan tradisional untuk mengobati mereka. Kami tidak punya pilihan lain. Ini tradisi kami.”

Acara inisiasi ini terjadi dalam masyarakat pedesaan di Liberia. Diperkirakan hampir separuh perempuan Liberia telah mengikuti inisiasi sande ini.

Pemerintah Liberia mengatakan menentang praktek FGM, tetapi tidak menyatakan praktek itu sebagai kejahatan.

Kementerian Urusan Pembangunan dan Jender Liberia mengeluarkan pernyataan akhir Januari lalu yang menyerukan penduduk Liberia untuk tidak melakukan mutilasi alat kelamin terhadap anak perempuan sebagai bagian inisiasi sande karena hal itu berbahaya.

Tapi perempuan-perempuan dalam komunitas sande mengatakan mereka tidak akan berhenti.

“Kami mendengar pemerintah meminta untuk menghentikan praktek ini. Bagaimana kami menghentikan sesuatu yang telah kami lakukan sejak lama disini? Ini merupakan bagian dari kebudayaan kami.”

Anak perempuan yang belum disunat tidak diijinkan menghadiri pertemuan-pertemuan komunitas atau ikut serta dalam proses pengambilan keputusan di tingkat lokal. Ia dianggap “tidak bersih.” Bahkan kelak dalam hidupnya ia bisa menghadapi tuduhan sebagai tukang sihir.

Beberapa aktivis mengatakan praktek FGM melanggar hak asasi anak perempuan dan menimbulkan komplikasi kesehatan serius, termasuk kesulitan ketika melahirkan.

Tetapi menentang praktek pemotongan alat kelamin perempuan merupakan hal berbahaya di Liberia. Pada tahun 2012 rumah seorang aktivis dibakar setelah ia berbicara tentang hal itu di forum PBB di New York. Seorang wartawan lokal bahkan mendapat ancaman akan dibunuh setelah menerbitkan artikel tentang FGM.

Beberapa aktivis hak perempuan di Liberia mengatakan kepada VOA/ akan dibutuhkan waktu lama dan banyak dialog sampai masyarakat pedesaan Liberia mengubah cara hidup mereka.

XS
SM
MD
LG