Tautan-tautan Akses

Juri Cannes: Seksisme dalam Industri Film Hambat Perempuan


Ketua Juri Festival Film Cannes, sutradara Jane Campion (kedua dari kanan), dan para anggota juri (dari kiri ke kanan) aktris Leila Hatami, aktris Carole Bouquet, aktris Jeon Do-yeon dan sutradara Sofia Coppola dalam pembukaan Festival Film Cannes ke-67. (Reuters/Benoit Tessier)

Ketua Juri Festival Film Cannes, sutradara Jane Campion (kedua dari kanan), dan para anggota juri (dari kiri ke kanan) aktris Leila Hatami, aktris Carole Bouquet, aktris Jeon Do-yeon dan sutradara Sofia Coppola dalam pembukaan Festival Film Cannes ke-67. (Reuters/Benoit Tessier)

Sutradara Jane Campion mengatakan ada seksisme yang bertahan dalam industri film, di mana perempuan tidak mendapatkan representasi yang memadai.

Langkanya sutradara perempuan dalam industri film adalah "tidak demokratis", menurut ketua juri festival film Cannes, sutradara Jane Campion pada Rabu (14/5), berbicara mengenai seksisme dalam bisnis film yang membuat banyak film tentang perempuan tidak muncul.

Komentar dari Campion, satu-satunya perempuan yang pernah memenangkan hadiah prestisius Palme d'Or prize dari festival tersebut, datang pada pembukaan acara yang berlangsung 12 hari di French Riviera, yang pada tahun-tahun sebelumnya dikritik karena tidak menampilkan cukup banyak film yang dibuat oleh perempuan.

"Ada seksisme yang bertahan dalam industri," ujar Campion sebelum penayangan film pembuka, "Grace of Monaco" dari Olivier Dahan.

"Terasa tidak demokratis dan perempuan melihatnya," ujarnya. "Dari waktu ke waktu, kami tidak mendapat representasi yang memadai."

Tahun ini, musim ke-67 festival, acara itu menampilkan mayoritas juri perempuan, dengan aktris Perancis Carole Bouquet, sutradara Amerika Sofia Coppola, aktris Korea Selatan Jeon Do-Yeon dan aktris Iran Leila Hatami bergabung bersama Campion.

Namun dari 18 film, hanya dua karya sutradara perempuan yang berkompetisi untuk Palme d'Or - "Le Meraviglie" dari sutradara Italia Alice Rohrwacher dan "Futatsume No Mado" dan Naomi Kawase dari Jepang.

Dua tahun lalu, harian berpengaruh Perancis Le Monde menerbitkan sebuah surat terbuka yang ditandatangani oleh sutradara perempuan dan aktris yang menuduh industri film memberlakukan standar ganda.

"Di Cannes, perempuan menampilkan dada mereka, sementara para pria memperlihatkan film mereka," tulis surat itu.

Jane Roscoe, sutradara London Film School yang baru ditunjuk, sepakat bahwa film masih merupakan industri yang didominasi pria.

Fakta bahwa Cannes memilih juri yang sebagian besar perempuan tahun ini "tidak menutup realitas bahwa film industri, seperti yang lainnya, tetap merupakan benteng pria meski ada beberapa kemajuan oleh perempuan," ujarnya.

"Ada masih banyak celah di industri di mana perempuan tidak terepresentasikan dengan baik," ujar Roscoe.

Fakta bahwa komposisi juri tahun ini menjadi pembicaraan banyak pihak di industri menyoroti kesenjangan itu, ujarnya.

Perempuan secara rutin ditampilkan dalam poster-poster festival dan seringkali menjadi tokoh utama, seperti "Grace of Monaco" yang dibintangi Nicole Kidman.

Apa yang kurang dari sinema saat ini, ujar Campion, adalah cerita-cerita yang dikisahkan perempuan.

"Bukannya saya tidak suka dengan pembuatan film oleh pria, tapi ada sesuatu yang dilakukan perempuan dan kita tidak tahu banyak tentangnya," ujar sutradara "Sweetie" dan "The Piano" itu. (Reuters)
XS
SM
MD
LG