Tautan-tautan Akses

Badan Pengungsi PBB Laporkan Peningkatan Jumlah Warga Afrika yang Bermigrasi ke Yaman

  • Lisa Schlein

Menurut UNHCR, warga Somalia yang melarikan diri dari kekerasan dan pelanggaran HAM, merupakan yang terbanyak tiba di Yaman.

Menurut UNHCR, warga Somalia yang melarikan diri dari kekerasan dan pelanggaran HAM, merupakan yang terbanyak tiba di Yaman.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan, jumlah warga Afrika yang berlayar melintasi Teluk Aden atau Laut Merah ke Yaman dalam tahun 2011 meningkat dua kali dibanding tahun sebelumnya.

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan sedikitnya 130 orang diketahui tenggelam ketika berlayar melintas tahun lalu. Juru bicara UNHCR, Adrian Edwards, mengatakan kebanyakan yang bisa mencapai pantai Yaman tiba dalam keadaan menyedihkan. Ia mengatakan mereka mengalami dehidrasi, kekurangan gizi, dan kerap ketakutan.

“Mereka yang berlayar melintasi Laut Merah dan Teluk Aden menghadapi risiko dan tantangan berat pada setiap tahap perjalanan mereka, mulai dari negara asal mereka, ketika melakukan persinggahan, setibanya dan setelahnya di Yaman. Risiko itu termasuk kekerasan fisik dan seksual, serta penyelundupan manusia,” ujarnya.

Setelah tiba di Yaman, Edward mengatakan para migran itu menghadapi kesulitan baru. Ini termasuk kurangnya akses ke layanan-layanan dasar, seperti tempat perlindungan, air, pangan, dan layanan kesehatan darurat. Selain itu, ia mengatakan mereka tidak leluasa bergerak dan hampir tidak punya kesempatan kerja.

Data terkini menunjukkan peningkatan besar jumlah warga Ethiopia yang tiba di Yaman, yaitu tiga dari setiap empat orang yang tiba di sana. Sampai 2009, pengungsi Somalia yang melarikan diri dari kekerasan dan pelecehan HAM merupakan yang terbanyak yang tiba di Yaman. Kecenderungan ini mulai berubah tahun 2009.

Warga Somalia secara otomatis diakui sebagai pengungsi setibanya di Yaman. Ini memberikan mereka akses untuk mendapat izin tinggal dan secara relatif leluasa bergerak. Sebaliknya, juru bicara UNHCR Edwards mengatakan, warga Etiopia umumnya dianggap sebagai migran yang mencari kerja. Ini membuat kondisi mereka di Yaman jauh lebih sulit.

“Kami khususnya khawatir akibat insiden awal minggu ini di mana tiga warga Ethiopia dibunuh oleh para penyelundup yang beroperasi di sepanjang pantai Laut Merah. Menurut laporan yang kami peroleh, mereka ditembak ketika berusaha melarikan diri dari para penyelundup itu, yang berusaha memeras uang. Ketidakstabilan di Yaman dan kurangnya keberadaan polisi memberikan para penyelundup manusia keleluasaan yang lebih besar untuk beroperasi. Kondisi itu juga kerap mencegah dilakukannya patroli di sepanjang pantai Yaman oleh tim-tim bantuan kemanusiaan yang berusaha menjemput migran yang baru tiba sebelum para penyelundup melakukannya,” papar Edwards lebih jauh.

Edwards mengatakan laporan-laporan penculikan para migran pada saat kedatangan mereka di Yaman untuk mendapat uang tebusan atau pemerasan benar adanya. Ia mengatakan sasaran utamanya agaknya adalah warga Ethiopia yang baru tiba. Namun, ia mengatakan sebagian pengungsi Somalia juga diculik.

XS
SM
MD
LG