Tautan-tautan Akses

Jumlah Korban Meninggal Akibat Miras Oplosan Jadi 24 Orang

  • Nurhadi Sucahyo

Satuan Pamong Praja Kabupaten Sleman memusnahkan berbagai macam minuman keras hasil operasi beberapa waktu lalu, namun tidak bisa menghentikan konsumsi oplosan. (VOA/Nurhadi)

Satuan Pamong Praja Kabupaten Sleman memusnahkan berbagai macam minuman keras hasil operasi beberapa waktu lalu, namun tidak bisa menghentikan konsumsi oplosan. (VOA/Nurhadi)

Hingga Minggu malam (6/2), jumlah korban tewas akibat minuman keras oplosan di Yogyakarta mencapai 24 orang, sementara puluhan lainnya masih dirawat di rumah sakit. Polisi menahan dua pasang suami istri sebagai pengoplos dan penjual minuman maut itu.

Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu, emanen nyawamu…

Ini adalah sebagian lirik lagu berjudul Oplosan, yang sangat populer di Indonesia. Isinya adalah saran agar orang mau berhenti minum oplosan dan lebih menghargai nyawanya. Pada bagian lain lagu ini, oplosan disebut sebagai air setan.

Sesuai namanya, minuman oplosan dibuat dari campuran alkohol murni atau biasa disebut etanol dengan bahan lain. Pengoplosan ini untuk menutupi rasa alkohol yang dianggap tidak enak. Menurut Bambang Panguntji, seorang penikmat minuman keras di Yogyakarta, minuman oplosan populer di kalangan masyarakat bawah karena harganya yang murah. Berbeda dengan minuman keras lain, terutama produk impor yang dapat dinikmati, seseorang minum oplosan sebenarnya hanya menunggu sampai terasa melayang. Kata Bambang, seusai menikmati minuman keras yang mahal, dirinya bisa santai dan badan terasa sehat. Sedangkan minum oplosan, justru membuatnya sakit kepala dan dampaknya bisa terasa hingga 24 jam.

Bambang mengatakan, "Kalau yang dari luar, minuman yang mahal, itu bangun tidur kepala tidak terasa berdenyut, tidak terasa mengganjal di kepala. Bangun pagi terasa enak. Tetapi kalau yang oplosan atau minuman yang murah, di kepala ketika bangun tidur rasanya sakit.”

Bambang meminta VOA untuk melengkapi namanya dengan Panguntji. Tentu saja ini bukan nama aslinya. Panguntji adalah singkatan dari Paguyuban Ngunjuk Tjiu, sekelompok orang yang senang berkumpul-kumpul untuk minum minuman keras. Ngunjuk artinya minum, sedangkan tjiu adalah salah satu jenis minuman keras produk lokal yang populer di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Bambang mengaku pernah empat kali jatuh dari sepeda motor dalam perjalanan pulang usai pesta minum. Dia bersyukur masih hidup. Kebiasaan minum oplosan menurutnya sudah lama ada di lingkungannya. Dari yang sekedar mencampur dengan minuman energi, sampai yang dianggapnya gila, seperti minum oplosan sambil ngemil obat nyamuk bakar yang dimakan layaknya menikmati kacang goreng. Meski penggemar minuman keras, tetapi dia mengaku prihatin dengan jenis oplosan murahan yang dicampur semaunya hingga berakibat kematian.

“Kalau ada teman yang sudah minum tidak apa-apa, kemudian lihat yang menjual juga laris, biasanya tukang minum lalu prinsipnya kita juga nggak apa-apa kalau meminumnya. Tapi, untuk yang kasus terakhir, di mana satu liter hanya lima belas ribu rupiah, itu sangat murah. Itu harga minuman pasaran. Tukang becak saja minum kayak gitu belum tentu mau," tambah Bambang.

Hari Minggu siang, beberapa polisi resor Sleman, Yogyakarta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah sepasang suami istri penjual oplosan. Keduanya sudah ditangkap dan kini berada dalam tahanan polisi. Polisi memeriksa air, mengumpulkan botol bekas air mineral yang biasa dipakai mengemas oplosan, serta menemukan tawas dan juga obat serangga cair.

Kepala Kepolisian Resor Sleman, AKBP Yulianto mengatakan hingga Minggu malam, 11 dari 24 korban tewas berasal dari Yogyakarta dan sisanya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Puluhan lainnya masih dirawat di sedikitnya 4 rumah sakit, namun belum diketahui kondisinya masih lemah.

Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Zullies Ikawati mengaku, alkohol murni adalah produk yang bebas dijual di pasaran. Salah satu manfaatnya adalah untuk pembersihan luka. Sayangnya, sebagian masyarakat menyalahgunakannya untuk membuat minuman mematikan ini. Padahal minuman beralkohol sendiri sebenarnya bisa dinikmati dengan aneka campuran, seperti dengan minuman lain, seperti yang biasa dilakukan oleh bartender. Namun, proses penyampuran di kalangan masyarakat Indonesia cenderung seenaknya, sehingga menjadikan minuman itu sebagai racun yang merusak organ dalam tubuh.

Professor Zullies mengatakan, “Saya kira, kalau minuman keras sendiri, artinya minuman yang mengandung alkohol atau etanol sekian persen, itu secara bahayanya sebenarnya tidak sangat berbahaya kalau tidak berlebihan. Nah, tapi oplosannya itulah yang kemudian menjadikannya mematikan. Interaksi dari berbagai campuran itulah yang kemudian bisa menjadi racun, menjadi toksik yang mematikan.”

Satuan Pamong Praja Kabupaten Sleman memusnahkan berbagai macam minuman keras hasil operasi beberapa waktu lalu, namun tidak bisa menghentikan konsumsi oplosan. (VOA/Nurhadi)

Satuan Pamong Praja Kabupaten Sleman memusnahkan berbagai macam minuman keras hasil operasi beberapa waktu lalu, namun tidak bisa menghentikan konsumsi oplosan. (VOA/Nurhadi)

Konsumsi etanol menekan sistem saraf pusat seseorang sehingga hilang kemampuan koordinasi dan pengambilan keputusan. Minuman itu juga mengganggu pankreas, saluran pencernaan, kelenjar endokrin, saluran pernapasan, jantung, serta meningkatkan agresivitas fisik dan seksual dan dalam jangka panjang akan merusak otak dan hati. Bahan campuran alkohol yang biasa dipakai oleh masyarakat antara lain minuman ringan, minuman energi, jus buah, jamu, tanaman obat, obat-obatan kimia, losion obat nyamuk, racun tikus, hingga cairan metanol yang biasa dijadikan bahan bakar. [ns/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG