Tautan-tautan Akses

Jelang Aksi 4 November, Presiden Ingatkan agar Tak Lakukan Tindakan Anarkis


Presiden Joko Widodo dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto menanggapi situasi menjelang pelaksanaan Pilkada 2017 di kediaman Prabowo di Hambalang Bogor Senin 31 Oktober 2016. (Foto: Biro Pers Kepresidenan).

Presiden Joko Widodo dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto menanggapi situasi menjelang pelaksanaan Pilkada 2017 di kediaman Prabowo di Hambalang Bogor Senin 31 Oktober 2016. (Foto: Biro Pers Kepresidenan).

Presiden Joko Widodo meminta publik untuk bijak dan berpikiran jernih dalam membaca posting-an (pesan) di media sosial khususnya yang cenderung bernada provokatif.

Rencana aksi unjuk rasa yang akan dilakukan oleh sejumlah kelompok masyarakat di Jakarta pada 4 November mendatang, mendapat tanggapan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Usai menghadiri acara Hari Menabung Nasional di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta Senin (31/10), Presiden Jokowi menegaskan aksi unjuk rasa adalah hak setiap warga negara, namun tidak dengan dilakukan dengan cara yang anarkis.

"Demonstrasi adalah hak demokratis setiap warga. Silakan! Boleh saja mau demonstrasi.Tapi yang penting jangan memaksakan kehendak atau yang merusak, yang anarkis. Ini yang tidak boleh. Pemerintah menjamin setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, tetapi tetap mengutamakan ketertiban umum," tandas Jokowi.

Dalam menyikapi aksi yang anarkis, Presiden telah menginstruksikan aparat keamanan untuk melakukan tindakan tegas penegakan hukum.

"Saya sudah memerintahkan kepada aparat untuk bersiaga dan menjaga, dan melakukan tugasnya dengan profesional jika ada tindakan anarkis oleh siapapun," tambahnya.

Saat ditanya wartawan mengenai posisi dirinya pada 4 November mendatang, Presiden Jokowi menegaskan tetap akan berada di tanah air.

Sementara itu, menanggapi perbincangan di media sosial yang dikeluhkan sejumlah pihak, Presiden Jokowi mengatakan berbicara di media sosial juga hak demokratis. Namun demikian, Presiden mengingatkan tetap ada batasan, etika dan sopan santunnya. Presiden meminta publik untuk bijak dan berpikiran jernih dalam membaca posting-an (pesan) apalagi yang cenderung bernada provokatif di media sosial.

"Hati-hati. Juga ada undang-undangnya yang mengatur itu. Hati-hati," kata Presiden.

Jelang Pilkada 2017, Jokowi minta tokoh agama dan politik dinginkan suasana

Presiden Jokowi Senin (31/10) melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman Prabowo di Hambalang Bogor Jawa Barat. Berbagai hal dibahas kedua tokoh nasional itu, diantaranya mengenai suasana politik menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017 mendatang. Dalam kesempatan itu, Presiden berharap, semua tokoh-tokoh agama dan tokoh politik mendinginkan suasana dan memberikan kesejukandalam mengeluarkan sebuah pernyataan.

"Tokoh-tokoh agama ikut mendinginkan suasana. Ikut memberikan kesejukan. Tokoh-tokoh politik juga sama ikut mendinginkan suasana memberikan kesejukan," pesan Presiden.

Sementara itu, Prabowo Subianto, mantan calon Presiden 2014 mengingatkan agar menjelang pelaksanaan Pilkada 2017 jangan sampai ada unsur-unsur yang mau memecah belah bangsa.

"Saya selalu berharap, ada suasana baik, sejuk. Iya kan. Bapak Presiden juga sepintas mengatakan bahwa demonstrasi adalah hak konstitusional. Beiau juga ingin semuanya baik dan kondusif. Dan itu yang kita inginkan. Kita harus jaga jangan sampai ada katakanlah unsur-unsur yang mau memecah-belah bangsa. Itu yang harus kita jaga. Kita adalah negara majemuk. Kita negara banyak suku, banyak agama, banyak ras. Semua kalau ada masalah marilah kita selesaikan dengan sejuk dengan damai. Sebagai anak bangsa saya selalu ingin yang baik," ujar Prabowo.

Pada Jumat (4/11) nanti, sejumlah organisasi kemasyarakatan berencana berunjuk rasa di depan Istana Kepresidenan. Aksi unjuk rasa itu menuntut pihak kepolisian menghukum Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dianggap melakukan penistaan agama. [aw/em]

XS
SM
MD
LG