Tautan-tautan Akses

Jerman, Perancis Ajukan Rencana Perdamaian Ukraina


Presiden Ukraina Petro Poroshenko (tengah), Presiden Perancis Francois Hollande (kanan) dan Kanselir Jerman Angela Merkel berjabat tangan seusai pertemuan di Kyiv, Ukraina (5/2).

Presiden Ukraina Petro Poroshenko (tengah), Presiden Perancis Francois Hollande (kanan) dan Kanselir Jerman Angela Merkel berjabat tangan seusai pertemuan di Kyiv, Ukraina (5/2).

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande akan mengajukan proposal mereka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, hari Jumat (6/2).

Para pemimpin Jerman dan Perancis dijadwalkan berada di Moskow, hari Jumat (6/2), untuk membahas proposal perdamaian baru yang ditujukan untuk meredam pertempuran yang semakin memanas di Ukraina timur dekat perbatasan Rusia.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande akan mengajukan proposal mereka kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, hari Jumat (6/2), sehari setelah pertemuan dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko, yang didukung Barat.

Pertemuan tersebut tertutup untuk media, dan tidak ada rincian mengenai inisiatif perdamaian Eropa itu yang diumumkan. Menurut Poroshenko, rencana tersebut "menimbulkan harapan" akan ditegakkannya gencatan senjata.

Menjelang pertemuan tersebut, Merkel mengatakan prakarsa yang ia dan Hollande ajukan di Moskow bertujuan untuk mempertahankan “perdamaian Eropa.” Ia mengatakan kedua pemimpin berupaya semaksimal mungkin untuk “mengakhiri pertumpahan darah” di Ukraina.

Sementara itu, di Brussels, Jumat (6/2), Wakil Presiden Amerika Joe Biden menuduh Rusia terus meningkatkan konflik di Ukraina dengan mengirim “tentara bayaran dan tank-tank.”

Biden termasuk di antara pemimpin-pemimpin dunia, diplomat dan pejabat pertahanan yang diharapkan hadir di Munich hari Jumat (6/2) untuk menghadiri konferensi keamanan selama tiga hari, di mana krisis Ukraina masuk agenda utama. Presiden Ukraina Poroshenko, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga dijadwalkan menghadirinya.

Juga Jumat (6/2), separatis pro-Rusia dan para pejabat Ukraina menyepakati perjanjian gencatan senjata sementara yang memungkinkan terbukanya suatu koridor kemanusiaan, agar warga sipil dapat dievakuasi dari daerah-daerah yang dilanda pertempuran di Ukraina Timur. Konvoi bus-bus hari Jumat berkumpul di kota Debaltseve, yang warganya terperangkap di tengah-tengah baku tembak dalam pertempuran sengit.

Sebelumnya, hari Kamis, di Kyiv, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry menyalahkan separatis pro-Rusia dan Kremlin atas meningkatnya kerusuhan di Ukraina timur, dengan mengatakan bahwa Presiden Putin "dapat mengambil pilihan untuk mengakhiri perang ini."

Kerry berbicara dengan Putin setelah perundingan. "Kami ingin resolusi diplomatik," ujarnya. "Tetapi kami tak dapat menutup mata terhadap teng-teng yang menyeberangi perbatasan Rusia menuju Ukraina."

XS
SM
MD
LG