Tautan-tautan Akses

Jenazah Ben Anderson Dikremasi, Abunya Dibawa ke Beberapa Negara


Keluarga Ben Anderson memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dikremasi. (VOA/Petrus Riski)

Keluarga Ben Anderson memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dikremasi. (VOA/Petrus Riski)

Jenazah Benedict Richard O'Gorman Anderson, atau yang dikenal luas sebagai Ben Anderson, hari Sabtu (19/12) dikremasi di Surabaya. Menurut rencana selain ditaburkan di Laut Jawa, abu jenazah akan dibawa ke beberapa negara.

Diiringi doa, puluhaan sahabat dan anggota keluarga Ben Anderson, antara lain dua adik Ben yaitu Perry dan Melani Anderson, Sabtu sore (19/12) melepas jenazah pakar Indonesia itu untuk dikremasi di Krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, Surabaya. Wahyu Yudhistira, mewakili keluarga Ben Anderson mengatakan usai dikremasi sebagian abu jenasah Ben Anderson akan dilarung di laut Jawa, sementara sebagian lainnya akan dibawa oleh keluarga ke Amerika Serikat.

“Nanti abu jenasah sebagian ada yang ingin dibawa ke Filipina, ada yang ingin sebagian dibawa ke Thailand, ada yang ingin ke Amerika, dan juga Indonesia. Jadi teman-teman Ben ingin sekali bawa sebagian abunya ke negaranya,” ujarnya.

Meninggalnya Ben Anderson menurut Wahyu Yudhistira merupakan suatu kehilangan bagi keluarga dan teman-temannya, karena sosok Ben Anderson merupakan pribadi luar biasa yang senantiasa mengajarkan kejujuran.

“Pak Ben itu orangnya sulit untuk digantikan, artinya dia sangat baik sekali pada kita semua, apa pun masalah yang kita hadapi, apa pun kita yang berbuat salah selalu dia mencoba untuk tidak marah. Dia malahan memberi kita nasehat, supaya kamu harus dewasa dalam hidup ini, kamu harus jujur, dan nilai-nilai ini itulah yang saya rasa sangat berguna sekali,” tambahnya.

Penulis dan budayawan Goenawan Mohamad yang hadir dalam prosesi kremasi, mengingat sosok Ben Anderson sebagai seseorang yang memiliki kemampuan teoritis sangat kuat untuk mengungkap sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan.

“Harus kita ingat bahwa Ben itu seorang ilmuwan bukan wartawan investigatif. Ia ilmuwan, mengajukan teori, menguji teori dan sebagainya, dan dalam hal itu dia memang luar biasa kapasitasnya, karena kemampuan bahasanya tidak ada bandingannya, juga argumentasi teoritisnya sangat kuat, tentu ada yang bisa dikritik, tapi pada dasarnya sangat kuat, dan dia selalu melihat hal-hal yang tidak dilihat orang,” katanya.

Sementara mantan aktivis mahasiswa 1998 yang juga alumni FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Prastyadi Panca Putra mengungkapkan perjumpaannya dengan Ben Anderson pasca reformasi yang memberikan kesan mendalam mengenai pribadi Ben.

Prastyadi mengatakan, “Selama ini kan memang hanya mengenal beliau lewat tulisan, berhadapan langsung, bertatapan muka langsung ya tahun 2002 itu di FISIP Unair. Ketika saya baca buku-bukunya ya memang kalau saya bilang intelektual yang jujur, jujur yang menganalisa apa adanya tanpa tendensi apa-apa, dan bahwa dia ingin mengungkapkan semuanya serba apa adanya, jujur.”

Ben Anderson dikenal karena tulisannnya mengenai analisa peristiwa G30S yang dikenal sebagai “The Cornell Paper”, yang digarapnya bersama seorang peneliti lain di Cornell, Ruth McVey. Tulisan itu sedianya merupakan kajian rahasia, tetapi kemudian bocor dan diterbitkan oleh Washington Post pada 5 Maret 1966. Dalam tulisan itu Ben menyimpulkan bahwa peristiwa G30S adalah persoalan internal angkatan darat dan bahwa Partai Komunis Indonesia tidak terlibat langsung. Pemerintah Soeharto ketika itu pun marah besar dan melarang Ben masuk ke Indonesia. Permohonanan Ben untuk mendapatkan informasi dan dokumen tambahan untuk melengkapi tulisan itu tidak dipenuhi dan akhirnya tulisan itu dipublikasikan secara resmi pada tahun 1971 tanpa tambahan data apapun. Ben baru bisa kembali ke Indonesia pada tahun 1999, setelah Soeharto mengundurkan diri dan era reformasi dimulai.

Ben Anderson yang kelahiran Kunming, China pada 26 Agustus 1936 meninggal di Batu, Jawa Timur pada usia 79 tahun. Hingga laporan ini disampaikan belum ada keterangan mengenai penyebab kematiannya, tetapi kuat dugaan Ben terkena serangan jantung, penyakit yang menurut sahabat-sahabatnya sudah diderita Ben beberapa tahun terakhir ini.

Selamat jalan Pak Ben!

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG