Tautan-tautan Akses

Jelang Ramadan Gas Elpiji Tabung 3 Kg Langka di Aceh

  • Budi Nahaba

Reje Kampung Mendale Takengong Muhammad Amin bersama Aman Mude mengatakan pasokan gas elpiji 3 kg agar diprioritaskan. (VOA/Budi Nahaba)

Reje Kampung Mendale Takengong Muhammad Amin bersama Aman Mude mengatakan pasokan gas elpiji 3 kg agar diprioritaskan. (VOA/Budi Nahaba)

Beberapa warga di sejumlah kabupaten kota di Aceh pekan ini mengeluhkan minimnya pasokan elpiji tabung tiga kilo gram yang tersedia di pangkalan-pangkalan resmi di berbagai wilayah, terutama di tingkat pengecer pedesaan hingga kecamatan.

Warga kota Takengon Aceh Tengah, Sugeng Ariga mengatakan Minggu (31/5), ia dan warga kesulitan memperoleh gas tabung 3 kg selama lebih dua pekan, semua pangkalan gas dari tingkat desa, pemukiman dan kecamatan stok kosong.

“Bahan Bakar Minyak (BBM) pasokannya aman, tapi elpiji yang jadi keluhan masyarakat yang tabung 3 kg, sering langka itu," kata Sugeng.

Sugeng mengaku banyak warga beralih menggunakan gas tabung 3 kg setelah pemerintah menaikan harga gas tabung 12 kg untuk konsumsi rumahan awal April lalu. Kelangkaan gas konsumsi rumahan ukuran 3 kg, tambah Sugeng diduga menjadi pemicu melonjaknya harga tabung gas 3 kg tersebut di Gayo dan sekitarnya.

“Tabung elpiji 3 kg, harga normal Rp 20 ribu, bahkan sampai Rp 30 ribu, ini rawan permainan harga di pengecer, konsumen dirugikan, sudah mahal langka lagi,” tambahnya.

Mahasiswa Universitas Gajah Putih UGP Takengon Kahar Pining (20) mengatakan, akibat kelangkaan gas elpiji 3 kg mereka harus mengeluarkan biaya konsumsi ekstra.

“Tabung elpiji tabung 3 kg udah dua minggu langka, mana masak kami, gas nggak ada, beli makan di luar,” kata Kahar.

Konsumsi gas elpiji rumahan 3 kg jadi andalan berhemat, tambah Kahar. Sejumlah mahasiswa perantau di Takengon mengaku, dengan tabung gas tersebut mereka memasak kebutuhan konsumsi sehari-hari jauh lebih hemat terutama bagi mahasiswa yang menyewa tempat tinggal atau asrama.

Sementara, Nurrachma Ibrahim (31) warga Pidie Jaya mengaku, di wilayahnya harga tabung gas di tingkat pengecer pangkalan normal, untuk elpiji 3 kgberkisar Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu sementara untuk tabung elpiji konsumsi rumahan harga per tabung dapat mencapai Rp 185 ribu.

“Tabung gas elpiji 12 kg terakhir saya beli harganya Rp 190 ribu, kadang-kadang Rp 180 ribu. Tidak selalu stabil. Harusnya harga lebih murahlah,” ujar Rachma.

Berbeda dengan wilayah lain, tambah Rachma, kawasan Pidie Jaya pasokan gas elpiji cukup normal, baik stok di pangkalan kampung maupun pengecer kecamatan.

Laporan-laporan media menyebutkan, kelangkaan gas 3 kg hampir terjadi di semua wilayah Aceh, di ibukota Banda Aceh, Aceh Besar dan sejumlah kabupaten kota di kawasan pegunungan tengah dan pantai barat warga mengantri dengan membawa kartu keluarga (KK) dan identitas lain agar dapat memperoleh gas elpiji konsumsi rumahan tabung 3 kg.

Analis sosial ekonomi Ansyari Hasyim mengatakan, kelangkaan gas subsidi tabung 3 kg cukup berdampak di Aceh, terutama menjelang bulan puasa atau Ramadan.

“Warga mengeluh terkait keberadaan gas elpiji tabung 3 kilo gram, ini kan mau Ramadan, kami melihat belum ada solusi dari pemerintah dan mitra. Mesti ada komitmen pemerintah melihat kondisi ril di lapangan, terkait kebutuhan masyarakat kebutuhan dasar, baik gas elpiji maupun sembako lainnya,” tambah Ansyari.

Pemerintah provinsi bersama operator enerrgi yang ditunjuk, tambah Ansyari diharap proaktif dalam mengatasi masalah-masalah kelangkaan gas dan bahan bakar minyak (BBM), pemenuhan kuota dan peningkatan kualitas tata niaga, baik gas dan BBM di daerah perlu mendapat perhatian serius, terutama menjelang Ramadan dan lebaran.

Analis mengatakan sebagai operator dan korporasi induk yang diamanahkan memproduksi dan mendistribusikan gas konsumsi masyarakat, Pertamina (Persero) diharap lebih transparan dalam menerapkan Tata Kelola Minyak dan gas, terutama terkait pengisian tabung gas 3 kg.

Analis mendesak instansi terkait melakukan evaluasi dan audit komprehensif terhadap Pertamina dan mitra, terutama terkait masalah-masalah teknis pengisian dan distribusi tabung gas 3 kg yang dikonsumsi jutaan rakyat Indonesia.

Selain soal kelangkaan elpiji gas konsumsi tabung 3 kg, warga mengaku beberapa kebutuhan rumahan jelang Ramadan seperti sayur mayur, cabai, bawang dan jenis sembako lainnya mulai dirasakan ada kenaikan harga. Kenaikan harga dirasakan oleh warga di kota-kota dengan pertumbuhan ekonomi cukup baik di Aceh, terutama Lhokseumawe, Takengon, Langsa dan Bireuen.

Pihak Pertamina menaikkan harga elpiji 12 kg pada 1 April lalu menjadi Rp 142.000 per tabung atau sekitar Rp 150.000 di tingkat pengecer di Jawa. Dengan harga baru itu, perbedaan harga dengan elpiji 3 kg makin lebar. Saat ini, harga elpiji 3 kg di tingkat pengecer Rp 20.000 per tabung.

Otoritas pemerintah pusat dalam laporannya menyatakan, Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015, mengalokasikan kuota elpiji 3 kg sebesar 5,7 juta ton. Penambahan kuota tahun ini disebabkan program konversi minyak tanah ke gas sebanyak 2 juta rumah tangga di Kalimantan dan Sumatera. Analis mengatakan jumlah tersebut lebih banyak daripada realisasi pada 2014 yang sebanyak 4,9 juta ton.

XS
SM
MD
LG