Tautan-tautan Akses

Jelang Lawatan Pemimpin Myanmar, Aktivis Rohingya di Bangkok Diberangus


Penasihat Negara dan Menlu Myanmar Aung San Suu Kyi (tengah) berjalan melewati pasukan kehormatan Thailand setibanya di bandara Suvarnabhumi, Kamis (23/6).

Penasihat Negara dan Menlu Myanmar Aung San Suu Kyi (tengah) berjalan melewati pasukan kehormatan Thailand setibanya di bandara Suvarnabhumi, Kamis (23/6).

Dua aktivis penganjur perlakuan lebih baik terhadap minoritas Rohingya di Myanmar, membacakan surat terbuka singkat kepada Aung San Suu Kyi dan menjelaskan mereka dilarang junta menjawab pertanyaan wartawan.

Isu sensitif mengenai perlakuan terhadap pengungsi Rohingya di Thailand membayangi awal kunjungan pemimpin de facto Myanmar ke negara tetangganya, Thailand, hari Kamis (23/6).

Sementara jet yang membawa Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Myanmar Aung San Suu Kyi dalam perjalanan menuju Bandara Suvarnabhumi, para aktivis di Bangkok segera diberangus oleh pemerintah militer Thailand. Sekelompok kecil polisi dan tentara tak berseragam menghalangi sekelompok aktivis mengadakan konferensi pers di ruang yang disewa dari Foreign Correspondents' Club Thailand.

Amy Smith, direktur eksekutif Fortify Rights, mengatakan kepada VOA bahwa yang dikhawatirkan adalah mengenai keamanan nasional. Padahal konferensi pers tersebut tidak menyangkut hal itu. “Ini adalah pelanggaran terhadap kebebasan menyatakan pendapat dan berkumpul dengan damai,” ujarnya.

Dua aktivis penganjur perlakuan lebih baik terhadap minoritas Rohingya di Myanmar, membacakan surat terbuka singkat kepada Aung San Suu Kyi dan menjelaskan mereka dilarang junta menjawab pertanyaan wartawan.

Sembari meninggalkan podium, Sekjen Rohingya Thailand Group, Hajee Ismail, mengatakan ia tak dapat berkomentar, sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Ini masalah besar,” lanjutnya.

Presiden Asosiasi Rohingya Myanmar di Thailand, Maung Kyaw Nu, yang mengatakan ia adalah mantan tahanan politik di Myanmar, sempat menutup mulutnya dengan serbet sewaktu melewati sekelompok wartawan Thailand dan internasional. Ia membukanya sebentar selama beberapa menit untuk berbicara dengan VOA dan menyatakan kecil harapan penderitaan Rohingya akan diperhatikan oleh Aung San Suu Kyi dalam kunjungannya itu.

“Kami tak dapat memperoleh apapun darinya karena ia juga melanggar hak asasi Rohingya,” ujarnya.

Sementara itu peliputan media mengenai Aung San Suu Kyi dibatasi ketat oleh pihak berwenang Thailand.

Konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha dijadwalkan berlangsung hari Jumat dalam acara penandatanganan, tetapi wartawan diberitahu tidak ada acara tanya jawab.

Pemimpin Myanmar itu juga dijadwalkan berpidato sebelumnya di Kementerian Luar Negeri di Bangkok. Tetapi media diberitahu mereka hanya diizinkan memotret atau merekam video pidato pembukaan Aung San Suu Kyi. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG