Tautan-tautan Akses

Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah

  • Fathiyah Wardah

Salah satu festival tahunan seni dan budaya Betawi di Jakarta (foto: dok). Kemendiknas berusaha melakukan revitalisasi bahasa daerah dengan menggelar festival seni.

Salah satu festival tahunan seni dan budaya Betawi di Jakarta (foto: dok). Kemendiknas berusaha melakukan revitalisasi bahasa daerah dengan menggelar festival seni.

Seorang pejabat Kemendiknas memperkirakan, pada akhir abad 21 ini hanya sekitar 10 persen saja bahasa daerah yang akan bertahan.

Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono mengatakan ratusan bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena semakin jarang digunakan. Ia memperkirakan pada penghujung abad 21 ini hanya sekitar 10 persen saja yang akan bertahan.

Sugiyono mengatakan urbanisasi dan perkawinan antar etnis merupakan penyebab utama terancam punahnya ratusan bahasa daerah.

Sugiyono mengatakan, "Dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75 saja. Dalam teorinya ada karena peperangan, bencana alam tetapi penyebab yang paling utama sekarang ini saya kira urbanisasi dan perkawinan antar etnis. Karena kalau dua orang dari daerah kemudian pindah ke Ibukota atau ke kota besar maka mereka akan berinteraksi dengan etnis lain lalu bahasa etnisnya sendiri itu akan ditinggalkan. Mereka akan memilih bahasa Indonesia sebagai penghubung antar etnik satu dengan etnik yang lain."

Sugiyono menjelaskan dari 746 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, hanya sembilan yang memiliki sistem aksara, yakni Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak. Sisanya, kata Sugiyono, hanya diturunkan melalui tradisi lisan dan inilah yang perlu dikaji lebih jauh dan didokumentasikan agar tidak hilang.

Menurut Sugiyono, pihak Kementerian Pendidikan Nasional saat ini terus melakukan pengumpulan kosa kata dan merekamnya serta melakukan revitalisasi untuk menghidupkan kembali bahasa daerah dengan menggelar berbagai festival seni di daerah-daerah.

"Bahasa yang bertahan itu umunya punya sistem tulis artinya bahasanya sendiri mempunyai faslitas untuk merekam bahasa itu dalam media selain lisan, ini lebih banyak bertahan. Implikasinya bahasa yang punya sistem tulis itu pasti berkembang katakanlah Jawa, Sunda, Madura dan semua Melayu," kata Sugiyono.

Sementara, pengamat Bahasa dari Universitas Atmajaya Jakarta Bambang Kaswanti Purwo mengajurkan agar setiap orangtua terbiasa menggunakan bahasa daerah dirumahnya. Selain itu, Kementerian Pendidikan Nasional harus mulai mewajibkan setiap murid menguasai setidaknya satu bahasa daerah. Hal ini dilakukan agar bahasa daerah tidak punah.

Bambang Kaswanti Purwo mengatakan, "Masalahnya sekarang orangtua cenderung enggan menggunakan bahasa ibu (daerah) dan (hanya) menggunakan bahasa Indonesia, karena beranggapan untuk maju anak harus bisa berbahasa nasional. Kalau berbeda justru akan memperkaya anak, kita bagi tugasnya misalnya ayahnya bahasa Jawa, ibunya bahasa Sunda, sehingga anaknya mempunyai kesempatan belajar dua bahasa daerah sekaligus. Tapi kalau bahasa sampai punah, kita tidak mempunyai kekayaan bahasa itu lagi, padahal setiap bahasa memiliki kekhasan dan kekayaan masing-masing."

Badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Unesco telah mencanangkan tanggal 21 Februari sebagai bahasa ibu internasional. Hal itu dilakukan karena hampir semua bahasa daerah yang berada di sejumlah negara didunia telah terancam punah.

XS
SM
MD
LG