Tautan-tautan Akses

Isu Militer Masih Jadi Duri dalam Daging Hubungan Indonesia-Amerika

  • Tony Hotland

Anggota Komando Pasukan Khusus Indonesia melakukan latihan (foto: dok.). Amerika kembali menghidupkan kerjasama dengan Kopassus pada pertengahan tahun lalu.

Anggota Komando Pasukan Khusus Indonesia melakukan latihan (foto: dok.). Amerika kembali menghidupkan kerjasama dengan Kopassus pada pertengahan tahun lalu.

Hubungan militer antara Indonesia dan Amerika memasuki babak baru setelah normalisasi secara penuh kerjasama militer yang sempat terputus selama satu dasawarsa.

Amerika memutuskan hubungan dengan militer Indonesia pada tahun 1999 setelah berbagai tuduhan oleh kelompok HAM atas pelanggaran meluas, termasuk penculikan aktivis mahasiswa, di bekas propinsi Timor-Timur dan beberapa kawasan lainnya.

Meski beberapa tahun kemudian Amerika kembali menghidupkan kerjasama dengan militer Indonesia, terutama dalam kaitan perang melawan terorisme, tetapi Amerika baru mulai bekerjasama dengan pasukan khusus Kopassus pada pertengahan tahun lalu.

Dalam sebuah acara diskusi di Washington DC, dua pengamat mengatakan, militer Indonesia sudah berhasil mereformasi institusi itu, yang dulu pernah dianggap paling kuat dan tertutup.

Pengamat militer Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie mengatakan kepada VOA bahwa reformasi internal TNI hampir seluruhnya telah selesai dan pekerjaan yang tersisa berada di tangan pembuat kebijakan.

Ia mengatakan, “99.9 persen sudah selesai di dalam. Yang belum selesai adalah di pihak civilian yang menentukan kebijakan pertahanan. Saat kita ditekankan harus membuat militer professional yang outward looking, itu kan tidak diikuti konsekuensi civilian untuk membiayai militer yang outward looking, yang alutsistanya mumpuni.”

Ia mengatakan TNI saat ini sudah jauh dari politik, dan pada dasarnya hanya mengikuti kebijakan yang dibuat secara politik oleh pihak sipil. Connie mengatakan ia memang masih melihat penolakan yang cukup besar di pihak Amerika terhadap TNI, terutama terkait perombakan bisnis militer yang sampai saat ini masih belum jelas. Lebih lanjut ia mengatakan, “Tetapi saya kira Amerika tidak punya pilihan kalau kita melihat bagaimana perkembangan dunia yang berpindah ke kawasan kita. Dia akan bingung karena jelas Indonesia akan berteman dengan tetangganya seperti Tiongkok dan India.”

Secara terpisah Kolonel purnawirawan John Haseman, mantan atase pertahanan pada kedutaan Amerika di Jakarta tahun 1990-1994, mengatakan hal serupa mengenai reformasi TNI. “Sejak tahun 1998, TNI telah melakukan reformasi paling menyeluruh dan professional dibanding semua institusi lain, tentunya kecuali kepresidenan. Secara moral, TNI berhasil mendorong koalisi yang baik dan publik makin melihat citra militer yang lebih baik," ujar Haseman.

Kolonel John Haseman berbicara dalam sebuah seminar yang diadakan USINDO minggu ini. Ia menggarisbawahi bahwa memang isu bisnis militer masih menjadi duri dalam daging, terutama karena transparansi yang tertutup dan perkembangannya kurang mendapat perhatian.

Pengamat militer Connie Bakrie, yang berada di Washington untuk menghadiri Dialog Amerika-ASEAN ke-24, mengatakan peran ASEAN sangat penting untuk mendorong kerjasama Indonesia dengan Amerika. Katanya, isu pertahanan dalam kerangka kawasan jauh lebih menarik perhatian dibanding kerangka bilateral.

Ia menambahkan bahwa isu Selat Malaka adalah isu yang menarik perhatian Amerika. Diperkirakan tahun 2022, sekitar 1,6 juta kapal akan melintasi kawasan itu dan banyak kepentingan ekonomi dan keamanan yang terkonsentrasi disana, termasuk kepentingan Amerika.

XS
SM
MD
LG